Kelompok kelas menengah dengan pengeluaran Rp3,1 juta-Rp4 juta per bulan mengalami kemerosotan IKK paling tajam. IKK kelompok ini turun 4,9 poin, dari 117,1 pada Juni menjadi 112,2 pada Juli. Penurunannya jauh lebih dalam dibandingkan penurunan IKK nasional yang hanya 1 poin.
Pelemahan tersebut terjadi pada kondisi ekonomi saat ini sekaligus ekspektasi ke depan. IKE kelompok ini turun 6,4 poin. Persepsi terhadap penghasilan saat ini turun 4,9 poin, ketersediaan lapangan kerja juga turun 5,7 poin, dan indeks pembelian barang tahan lama ikut anjlok 8,5 poin. Bahkan, indeks pembelian barang tahan lama kelompok ini turun ke 96,2, masuk zona pesimis.
Ketika rumah tangga mulai merasa kondisi ekonomi lebih berat, barang tahan lama (durable goods) akan menjadi salah satu pengeluaran pertama yang ditunda.
Mobil, peralatan rumah tangga, elektronik, atau kebutuhan lain yang bersifat diskresioner tidak harus dibeli hari ini. Konsuen rumah tangga bisa menunggu sampai kondisi pendapatan dan pekerjaan terasa lebih aman.
Oleh karena itu, penurunan tajam indeks pembelian durable goods dapat dibaca sebagai tanda meningkatnya kehati-hatian, bukan semata-mata perubahan sentimen.
Data kondisi keuangan konsumen memperkuat gambaran tersebut. Rasio konsumsi terhadap pendapatan secara nasional turun tipis dari 73,0% menjadi 72,7%, sementara porsi pendapatan yang digunakan untuk membayar cicilan meningkat.
“Proporsi pembayaran cicilan/utang (debt installment to income ratio) sebesar 10,5%, sedikit lebih tinggi dibandingkan proporsi pada bulan sebelumnya sebesar 10,0%,” sebut laporan BI.
Dengan kata lain, rumah tangga belum berhenti berbelanja, tetapi mulai mengatur ulang prioritasnya.
Proporsi konsumsi terhadap pendapatan terindikasi menurun pada kelompok pengeluaran Rp2,1 juta-Rp3 juta (73,5%), Rp4,1 juta-Rp5 juta (71,3%) dan pengeluaran di atas Rp5 juta juga ikut turun (69%).
Di kelompok dengan pengeluaran Rp3,1 juta-Rp4 juta memang bukan kelompok paling bawah sehingga seluruh pendapatannya habis untuk kebutuhan pokok, tetapi juga belum memiliki bantalan keuangan sebesar kelompok berpengeluaran tinggi.
Ketika pendapatan, pekerjaan, dan kemampuan membeli barang tahan lama secara bersamaan dipersepsikan memburuk, kelompok ini menjadi sangat sensitif terhadap ketidakpastian ekonomi.
Sebaliknya, kelompok berpengeluaran lebih dari Rp5 juta relatif mampu mempertahankan optimismenya. IKK mereka hanya turun 0,2 poin menjadi 121,2, sekaligus menjadi yang tertinggi di antara seluruh kelompok pengeluaran. Ini menunjukkan bahwa tekanan ekonomi mulai terasa tidak merata.
Masalah Struktural Pasar Kerja
Jika dibedah berdasarkan pendidikan, maka pola yang sama terlihat makin benderang. IKK responden SMA turun 2,3 poin jadi 110,5. Sebaliknya, IKK kelompok akademi/diploma naik 0,7 poin, sarjana juga naik 3,8 poin, dan pascasarjana melonjak 9,6 poin jadi 128,5.
Tak seperti Juni, semakin tinggi pendidikan, optimisme konsumen pada Juli justru cenderung semakin kuat.
Sebagai catatan, pada bulan sebelumnya, IKK kelompok terdidik dari responden dengan pendidikan diploma, sarjana dan pasca sarjana tercatat turun.
Ada indikasi bahwa pasar kerja untuk kelompok SMA saat ini menjadi salah satu penyebabnya. Kelompok SMA mencatat Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja Saat Ini turun ke level pesimis yakni 95,9. Sebaliknya indeks untuk akademi/diploma berada di 106,2, sarjana 114,5, dan pascasarjana 101,7.
Hal ini menggambarkan masalah struktural. Sebab, meski perekonomian secara agregat masih disebut tumbuh, dan kondisi ekonomi nasional masih optimis, namun pengalaman masyarakat terhadap ekonomi sangat bergantung pada posisi mereka di pasar kerja.
Oleh karena itu, pelemahan optimisme kelompok SMA dapat dibaca sebagai salah satu sinyal bahwa persoalan ketenagakerjaan tidak semata-mata menyangkut jumlah pekerjaan, tetapi juga akses terhadap pekerjaan yang dianggap cukup aman dan menjanjikan.
Kualitas Pertumbuhan Jadi Pertanyaan
Pada Juli, Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi di 5,29%, lebih baik dari proyeksi ekonom dan analis yang sebesar 5,1%. Namun, pertumbuhan ini juga melambat dari capaian kuartal sebelumnya yang sebesar 5,61%.
Terdapat paradoks dalam kondisi ini. Perekonomian tetap tumbuh, tapi sebagian rumah tangga merasa ekonominya tidak semakin aman. Angka capaian pertumbuhan ekonomi dalam bentuk Produk Domestik Bruto (PDB) yang sebesar 5% itu, belum terasa hingga ke masyarakat.
Sebab, sebagian kelompok rumah tangga belum merasakannya melalui pendapatan yang diterima, pekerjaan yang tersedia, serta harga barang yang harus dibayar, dan kemampuan membeli kebutuhan di luar barang pokok.
Hal ini terlihat pada data rasio cicilan terhadap pendapatan semakin naik, sementara sebagian kelompok pendapatan terlihat menurunkan porsi konsumsinya.
Bahkan di saat yang sama, kelompok yang IKK merosot paling tajam yakni pengeluaran Rp3,1 juta dan Rp4 juta, mengalami penurunan tajam pada pembelian barang tahan lama. Pembelian barang tahan lama seringkali jadi indikator perubahan keyakinan dan prospek pendapatan.
Samuel Sekuritas menyebut, moderasi keyakinan yang terus berlanjut berpotensi mendatangkan risiko penurunan bagi konsumsi rumah tangga, yang tetap menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Ke depannya, kami memperkirakan ruang bagi pemulihan signifikan dalam keyakinan konsumen akan terbatas dalam waktu dekat. Kekhawatiran yang terus berlanjut mengenai lapangan kerja, daya beli, dan ketidakpastian ekonomi secara luas akan membuat belanja rumah tangga tetap relatif berhati-hati,” sebut Samuel Sekuritas dalam catatannya.
(dsp/aji)




























