Logo Bloomberg Technoz

Ia menyarankan petani untuk mengalihkan komoditas tanam ke jenis palawija yang lebih toleran terhadap kelangkaan air, seperti jagung, ubi kayu (singkong), dan kacang-kacangan. Namun, jika petani tetap harus menanam padi hingga dua kali atau lebih dalam setahun, pemerintah wajib menjamin ketersediaan benih unggul.

“Jika pun harus menanam padi dua kali atau lebih, petani perlu disediakan jenis varietas padi yang tahan cekaman kekeringan, seperti Inpari 13, padi gogo Inpago 8, Inpago 11, dan Agritan,” ungkap Bustanul.

Anjuran para pakar tersebut sejalan dengan kondisi riil di lapangan. Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) per 1 Juli 2026 menunjukkan bahwa fenomena El Niño telah menurunkan produksi padi secara signifikan akibat berkurangnya luas panen selama tiga bulan berturut-turut.

Pada Mei 2026, luas panen padi nasional tercatat hanya 0,96 juta hektar, atau menyusut 2,35 % dibandingkan periode Mei 2025. Penurunan luas panen ini berdampak langsung pada produksi padi yang merosot 3,43 % menjadi 4,92 juta ton Gabah Kering Giling (GKG).

Tren penurunan kinerja produksi ini sebenarnya telah terjadi sejak Maret 2026 (turun 3,16 %) dan April 2026 (turun 15,47 %), meskipun periode tersebut seharusnya memasuki masa puncak panen raya. BPS mengindikasikan bahwa ketergantungan sistem usaha tani Indonesia pada penambahan luas areal panen—bukan pada penggunaan inovasi teknologi maupun benih unggul tahan kekeringan—menjadi penyebab utama turunnya produksi GKG sebesar 4,12 % pada Maret dan 16,03 % pada April 2026.

Dampak kemarau ekstrem akibat El Niño tidak hanya memukul tanaman pangan, tetapi juga sektor perkebunan yang selama ini minim perhatian. BPS mencatat produksi kopi Indonesia mengalami penurunan signifikan, dari 742.000 ton pada tahun 2025 menjadi hanya 682.000 ton pada tahun 2026.

Kondisi tersebut amat memprihatinkan karena berbanding terbalik dengan tren produksi kopi dunia yang justru meningkat dari 10,73 juta ton pada 2025 menjadi 11,28 juta ton pada 2026. 

Pertumbuhan suplai kopi global tersebut didorong oleh lonjakan produksi negara pesaing seperti Brasil (naik dari 3,8 juta ton menjadi 4,31 juta ton), Vietnam, dan Kolombia. Indonesia menjadi salah satu negara produsen utama yang justru mengalami penurunan kinerja akibat kurangnya adaptasi teknologi terhadap cekaman kekeringan.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pihaknya akan terus memonitor kebutuhan insentif dalam rangka menghadapi kemarau pada semester II-2026 mendatang. 

Dia menyebut sektor pertanian menghadapi tantangan krusial karena perlu memindahkan air dari sungai ke daerah pertanian yang membutuhkan. Beberapa wilayah disebut telah mulai melakukan pompanisasi. 

"Tentu kita harus melihat wilayah-wilayah dan kantong-kantongnya, dan tentu insentif yang diberikan sesuai K/L [Kementerian/Lembaga] yang terkait," kata Airlangga dalam konferensi pers Pertumbuhan Ekonomi kuartal II-2026, Rabu (5/8/2026) petang. 

Dia menambahkan, pemerintah pada dasarnya akan memberikan insentif kepada sektor yang membutuhkan untuk menghadapi musim kemarau di paruh kedua 2026 ini.

"Pemerintah tentu akan menyiapkan anggaran yang diperlukan untuk itu," imbuh dia.

(ain)

No more pages