Logo Bloomberg Technoz

Lebih lanjut, Blok Tanamalia merupakan bagian dari izin usaha pertambangan khusus (IUPK) Vale Indonesia yang meliputi subblok IUPK Loeha, Lemo-Lemo, dan Lingkona dengan luas 13.556 hektare (ha).

Blok Tanamalia juga berada di kawasan hutan Sorowako dengan izin eksplorasi lanjutan seluas 17.239 ha. Area Tanamalia mencakup desa loeha dan sebagian kecil desa Rante Angin, Luwu Timur.

Dijelaskan bahwa jika kandungan nikel cukup memadai maka konstruksi bakal dilakukan mulai 2027—2028 dan penambangan dimulai paling cepat 2031.

Cadangan Nikel Vale

Sekadar informasi, Head of Studies and Exploration Vale Indonesia Tyas Agustinus Rabudianto mengungkapkan posisi cadangan nikel perseroan per 31 Desember 2025 mencapai 1,18 miliar ton basah atau sekitar 664 juta ton kering. Cadangan tersebut dapat ditambang hingga 20 tahun.

Vale juga memiliki sumber daya nikel sekitar 1,67 miliar ton basah atau setara dengan 1 miliar ton kering. Dengan demikian, cadangan perseroan masih dapat ditingkatkan menjadi tahan untuk 50 tahun penambangan.

Tyas mengungkapkan cadangan nikel yang belum ditambang terdiri dari 695,57 juta ton basah limonit (nikel kadar rendah) dan 489,40 juta ton basah saprolit (kadar tinggi).

Untuk sumber daya, besaran bijih limonit diperkirakan mencapai 657,1 juta ton basah dan saprolit sebesar 1,02 miliar ton basah.

At least 20 tahun. Untuk yang kita yang cadangan itu kita masih punya resource yang belum kita pakai. Satu setengah kali yang di sekarang. Kalau dijumlahkan bisa total 50-an tahun,” kata Tyas dalam diskusi publik di kawasan Jakarta Selatan, Rabu (29/4/2026).

Tyas mengungkapkan perseroan mengalokasikan sekitar 2% dari pendapatan atau sekitar US$15—US$16 juta per tahun untuk biaya eksplorasi, sehingga sumber daya dan cadangan bijih nikel perseroan diharapkan dapat terus meningkat.

Biaya eksplorasi tersebut juga dapat ditingkatkan jika nantinya dibutuhkan. Tyas mengklaim dewan direksi sudah menginstruksikan hal tersebut.

Saat ini, dari total wilayah konsesi Vale Indonesia sebesar 118.017 ha, total wilayah yang telah tereksplorasi baru sekitar 68%.

Pengangkutan tanah oleh excavator ke truk di Sorowako milik PT Vale Indonesia. (Dok Dimas Ardian/Bloomberg)

Dilirik VW

Di sisi lain, pabrikan otomotif asal Jerman, Volksagen AG (VW), sebelumnya disebut-sebut sempat menyatakan minatnya bekerja sama dengan Vale Indonesia dalam pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik.

Associate Energy Analyst di Sekretariat Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Fitria Astuti Firman menyebut pemerintah sedang menyusun standar ESG nasional melalui gap analysis (analisis kesenjangan) antara regulasi domestik dengan standar internasional untuk mengakomodasi investor asing di sektor mineral kritis. 

Dalam kaitan itu, dia menyebut VW tertarik untuk masuk ke proyek nikel Vale dengan syarat ESG yang ketat.

“Langkah ini krusial agar produk mineral Indonesia dapat diserap oleh rantai pasok global. Contoh sukses penerapan ini adalah kerja sama PT Vale dengan raksasa otomotif dunia seperti Ford dan Volkswagen, yang mewajibkan kepatuhan ESG berstandar global,” ungkapnya di agenda diskusi publik Indef, Rabu (17/6/2026).

Pada kesempatan sebelumnya, VW melalui divisi baterainya PowerCO memang pernah dikabarkan berminat bermitra dengan Vale, Ford Motor Co., dan Zhejiang Huayou Cobalt Co. 

Bahlil Lahadalia, ketika masih menjadi Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) juga sempat membenarkan kabar tersebut. Dia menyatakan VW berminat membangun industri baterai kendaraan listrik.

“VW akan bekerja sama dengan beberapa perusahaan nasional dan asing. Kami siap mengawal agar rencana investasinya segera terealisasi,” ujar Bahlil dalam siaran pers, Selasa (18/4/2023).

PowerCo SE merupakan anak perusahaan Volkswagen yang didirikan tahun 2022 dan berkantor pusat di Salzgitter, Jerman.

PowerCo menjalankan seluruh aktivitas baterai Volkswagen Group; mulai dari memproses bahan mentah, mengembangkan baterai hingga mengelola gigafactories Eropa.

Sekadar informasi, berdasarkan data INCO per April 2026, proyek Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa menjadi sorotan karena nilai investasinya yang terbesar, mencapai US$4,5 miliar, melalui kolaborasi dengan Ford dan Huayou.

Hingga saat ini, progres konstruksi pabrik HPAL di lokasi tersebut telah mencapai 65%, sementara pembangunan sektor tambang menyentuh 72%.

Proyek tersebut diklaim menyerap lebih dari 5.000 tenaga kerja dan ditargetkan mulai berproduksi pada Agustus 2026 dengan kapasitas sebanyak 120.000 ton mixed hydroxide precipitate (MHP) per tahun.

Pada 28 Februari 2026 Vale telah menjual bijih nikel pertama dari tambang di proyek tersebut. Perseroan menargetkan produksi 300.000 ton limonit per bulan, atau sekitar 9.677 ton per hari.

Sementara itu, proyek smelter IGP Morowali telah memasuki progres operasional. Blok Bahodopi dengan luas 22.699 ha dilaporkan telah mulai beroperasi sejak kuartal I-2025.

Untuk sektor tambang, konstruksi fase 1 telah mencapai 100% dan kini perusahaan berfokus pada persiapan penyelesaian fase 2 yang ditargetkan rampung pada 2027. Vale mengungkapkan pada awal 2026 telah terdapat 2,2 juta ton bijih yang terjual dari proyek tersebut.

Sementara itu, progres pembangunan pabrik HPAL hasil kemitraan dengan GEM dan EcoPro berkapasitas 66.000 ton per tahun MHP telah mencapai 27% dan ditargetkan mulai beroperasi pada tahun nini. Total investasi proyek ini mencapai US$2 miliar.

Adapun, di Sulawesi Selatan, Vale bersama Huayou tengah mengembangkan proyek IGP Sorowako Limonite di Blok Sorowako seluas 70.566 ha untuk mendukung hilirisasi nikel limonit.

Pembangunan tambang per April 2026, telah mencapai 42%, sedangkan progres pabrik HPAL berada di angka 18%.

Fasilitas tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi 60.000 ton MHP per tahun dan ditargetkan beroperasi penuh pada 2027.

(azr/wdh)

No more pages