Penjelasan tersebut sekaligus mengoreksi informasi yang sebelumnya banyak dibagikan di media sosial. Meski selisih waktunya hanya beberapa jam, secara astronomis fenomena tersebut memang berlangsung pada Kamis dini hari berdasarkan waktu Indonesia bagian barat.
Gerhana Matahari Total merupakan salah satu fenomena astronomi yang terjadi ketika Bulan berada tepat di antara Matahari dan Bumi sehingga cahaya Matahari tertutup sepenuhnya. Saat kondisi tersebut terjadi, wilayah yang berada tepat pada jalur bayangan inti Bulan akan mengalami siang hari yang berubah menjadi gelap selama beberapa saat.
Thomas menjelaskan mekanisme terjadinya fenomena tersebut dengan mengatakan, "GMT terjadi ketika Bulan menutupi Matahari secara penuh, pada saat posisi Bulan di antara Matahari dan Bumi," jelas Thomas.
Wilayah Pengamatan Gerhana Matahari Total 2026
Meski menjadi perhatian masyarakat Indonesia, Gerhana Matahari Total Agustus 2026 ternyata tidak dapat diamati dari wilayah Indonesia. Menurut Thomas Djamaluddin, lintasan bayangan total Bulan berada jauh dari kawasan Nusantara sehingga masyarakat Indonesia tidak akan bisa menyaksikan fase total gerhana secara langsung.
Ia menegaskan, "Tidak dapat dilihat dari Indonesia. GMT terjadi di sekitar Kutub Utara. Terlihat di Artik, Greenland, dan Spanyol," jelas Thomas.
Dengan demikian, masyarakat yang ingin menyaksikan Gerhana Matahari Total secara langsung harus berada di wilayah yang dilewati jalur totalitas gerhana. Beberapa lokasi utama yang masuk dalam lintasan tersebut adalah kawasan Artik, Greenland, serta sebagian wilayah Spanyol.
Selain meluruskan lokasi pengamatan, Thomas juga memberikan penjelasan mengenai anggapan bahwa Gerhana Matahari Total merupakan fenomena langka. Menurutnya, istilah langka kurang tepat jika digunakan untuk menggambarkan Gerhana Matahari Total secara umum.
Ia mengatakan bahwa Gerhana Matahari Total sebenarnya cukup sering terjadi di berbagai wilayah di dunia. Yang tergolong jarang adalah apabila lintasan gerhana melewati kawasan Kutub Utara.
Thomas menegaskan, "GMT tidak langka, sering terjadi. Tetapi GMT melewati kutub utara memang langka," pungkas Thomas.
Penjelasan tersebut memberikan pemahaman bahwa frekuensi Gerhana Matahari Total sebenarnya rutin terjadi dalam siklus astronomi. Namun, setiap wilayah di Bumi tidak selalu dilewati jalur totalitas sehingga masyarakat di lokasi tertentu harus menunggu bertahun tahun bahkan puluhan tahun untuk dapat menyaksikannya secara langsung.
Selain Gerhana Matahari Total, fenomena Gerhana Matahari Sebagian juga akan terjadi pada periode yang sama. Gerhana jenis ini dapat diamati dari wilayah yang jauh lebih luas dibandingkan jalur totalitas sehingga lebih banyak negara memperoleh kesempatan untuk melihat sebagian piringan Matahari tertutup Bulan.
Berdasarkan informasi yang dilansir KompasTV pada Minggu, 2 Agustus 2026, Gerhana Matahari Sebagian dapat diamati di berbagai negara yang tersebar di Eropa, Afrika, Amerika Utara, hingga sebagian Asia.
Daftar negara yang berpotensi menyaksikan gerhana sebagian meliputi Albania, Aljazair, Andorra, Austria, Belarus, Belgia, Bermuda, Bosnia dan Herzegovina, Brasil, Bulgaria, Burkina Faso, Cabo Verde, Kanada, Pantai Gading, Kroasia, Ceko, Denmark, Estonia, Kepulauan Faroe, Finlandia, Prancis, Gambia, Jerman, Ghana, Gibraltar, Yunani, Guernsey, Guinea, Guinea-Bissau, Hungaria, Irlandia, Pulau Man, Italia, Jersey, Kosovo, Latvia, Liberia, Libya, Liechtenstein, Lituania, Luksemburg, Mali, Malta, Mauritania, Moldova, Monako, Montenegro, Maroko, Belanda, Niger, Makedonia Utara, Norwegia, Polandia, Rumania, Saint Pierre dan Miquelon, San Marino, Senegal, Serbia, Sierra Leone, Slovakia, Slovenia, Svalbard dan Jan Mayen, Swedia, Swiss, Tunisia, Ukraina, Britania Raya, Amerika Serikat, Vatikan, Sahara Barat, serta Kepulauan Åland.
Secara umum, wilayah yang dapat menyaksikan Gerhana Matahari Sebagian mencakup sebagian besar kawasan Eropa, Afrika barat laut, Amerika Utara bagian utara, Samudra Atlantik, Samudra Arktik, serta sebagian wilayah Asia utara.
Fenomena astronomi seperti Gerhana Matahari Total maupun Gerhana Matahari Sebagian selalu menjadi perhatian para ilmuwan maupun masyarakat karena memberikan kesempatan untuk melakukan berbagai pengamatan ilmiah. Selain memiliki nilai edukatif, peristiwa ini juga menjadi momen penting bagi para astronom untuk mempelajari atmosfer Matahari, lintasan orbit Bulan, serta berbagai fenomena langit lainnya.
Masyarakat di Indonesia diimbau untuk selalu memeriksa informasi dari sumber resmi ketika memperoleh kabar mengenai fenomena astronomi. Meski Gerhana Matahari Total Agustus 2026 tidak dapat diamati dari Indonesia, masyarakat tetap dapat mengikuti perkembangan dan dokumentasi fenomena tersebut melalui siaran observatorium internasional maupun lembaga astronomi yang melakukan pengamatan langsung di wilayah jalur totalitas.
Dengan adanya penjelasan dari BRIN, informasi mengenai jadwal Gerhana Matahari Total kini menjadi lebih jelas. Fenomena tersebut berlangsung pada Kamis dini hari, 13 Agustus 2026 pukul 23.58 hingga 01.34 WIB, berada di sekitar Kutub Utara, dan hanya dapat disaksikan secara total dari wilayah tertentu seperti Artik, Greenland, dan Spanyol. Sementara itu, puluhan negara lainnya berkesempatan mengamati Gerhana Matahari Sebagian sesuai posisi geografis masing masing.
(seo)





























