Logo Bloomberg Technoz

Ilmuwan Memburu Misteri Korona di Gerhana Matahari 12 Agustus

Muhammad Fikri
06 August 2026 20:20

Warga menyaksikan gerhana matahari total saat acara melihat gerhana di Bloomington, Indiana, AS, Senin (8/4/2024). (Chet Strange/Bloomberg)
Warga menyaksikan gerhana matahari total saat acara melihat gerhana di Bloomington, Indiana, AS, Senin (8/4/2024). (Chet Strange/Bloomberg)

Bloomberg Technoz, Jakarta - 

Gerhana Matahari Total yang akan melintasi Greenland, Islandia, Spanyol, Portugal, hingga Rusia pada 12 Agustus 2026 bukan sekadar fenomena astronomi yang menarik perhatian publik. Bagi ilmuwan, momen langka tersebut menjadi kesempatan penting untuk mempelajari korona, lapisan atmosfer terluar Matahari yang masih menyimpan berbagai misteri, termasuk mengapa suhunya mencapai jutaan derajat Celcius, jauh lebih panas dibanding permukaannya.

Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menyebut bahwa gerhana matahari total memungkinkan korona terlihat jelas ketika Bulan menutupi seluruh piringan Matahari, seperti dikutip Kamis (6/8/2026).

Dalam kondisi normal, cahaya fotosfer Matahari terlalu terang sehingga korona sulit diamati dari Bumi. Karena itu, gerhana total menjadi salah satu momen terbaik bagi peneliti untuk mengamati struktur, dinamika, hingga medan magnet korona secara langsung.


Fenomena GMT dinilai penting untuk menjawab salah satu teka-teki terbesar dalam fisika Matahari, yakni mengapa korona memiliki suhu sekitar 1 juta hingga 3 juta derajat Celcius, sedangkan permukaan Matahari hanya sekitar 5.500 derajat Celcius.

Para ilmuwan masih meneliti berbagai kemungkinan penyebabnya, mulai dari rekoneksi medan magnet hingga gelombang magnetohidrodinamika (MHD) yang diyakini membawa energi ke atmosfer luar Matahari.