Dokumen tersebut merinci bagaimana Yaroch bertemu dengan seorang pegawai DoJ yang dikenalnya pada 29 Juli dan “segera mulai menangis saat menceritakan kisahnya.” Ia memutuskan untuk mengaku “karena rasa malu” yang “menggerogoti dirinya dari dalam,” demikian tertulis dalam dokumen tersebut.
Yaroch mengetahui keberadaan rekening-rekening tersebut pada November 2024 dalam rangka pekerjaan investigasinya.
Ia merasa frustrasi ketika menyadari bahwa FBI “tidak bisa atau tidak mau bertindak terhadap” rekening-rekening tersebut, sehingga ia masuk ke sistem FBI dan menemukan kunci yang ia butuhkan untuk mentransfer uang tersebut ke rekeningnya sendiri.
Yaroch mengaku tidak pernah berinteraksi dengan siapa pun yang terkait dengan rekening-rekening tersebut, termasuk entitas asing, demikian disebutkan dalam berkas tersebut.
FBI pada pekan lalu menggeledah kediaman dan kendaraan Yaroch. Selama penggeledahan, ia memberikan data Face ID dan PIN iPhone-nya kepada para agen, yang kemudian mengakses akunnya di Kraken, sebuah platform kripto.
Yaroch lantas memberitahu mereka tentang aplikasi lain yang ia gunakan untuk transfer tersebut — sebuah aplikasi bernama Slush, yang kemudian terhubung dengan sebuah proyek bernama Suilend.
Pencarian di ponsel Yaroch menemukan bahwa pada bulan Mei tahun ini ia bertanya kepada ChatGPT: “Jika saya memiliki satu juta dolar, bagaimana saran Anda untuk menginvestasikan atau menghabiskannya guna memaksimalkan keuntungan dan imbal hasil.”
Yaroch juga mengatakan kepada ChatGPT bahwa ia berusia 37 tahun dengan keluarga muda dan memiliki tujuan untuk pensiun sekitar usia 40 tahun di negara asing seperti Portugal.
Yaroch dipecat oleh FBI pada 31 Juli, hari yang sama ketika ia ditangkap. Ia telah didakwa atas tuduhan pengangkutan antarnegara bagian serta penerimaan barang, sekuritas, dan uang hasil curian.
Dokumen pengadilan tidak menyebutkan nama pengacara yang mewakilinya.
(bbn)
































