Penilaian dilakukan berdasarkan beberapa indikator penting. Kepadatan pedagang makanan memiliki bobot paling besar, yakni 30 persen. Semakin mudah wisatawan menemukan street food dalam suatu wilayah, semakin tinggi nilai yang diperoleh kota tersebut.
Faktor berikutnya adalah proporsi makanan dengan harga terjangkau yang menyumbang bobot sebesar 20 persen. Sementara indikator lain seperti jumlah pedagang dengan rating minimal empat bintang, rata rata penilaian pelanggan, variasi jenis kuliner, pilihan menu vegetarian, vegan, serta bebas gluten masing masing memiliki bobot 10 persen.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa kualitas street food saat ini tidak hanya dinilai dari rasa makanan, tetapi juga dari aksesibilitas, keberagaman, hingga kemampuan memenuhi kebutuhan wisatawan dengan preferensi makanan yang berbeda.
Paris Jadi Juara, Bagaimana dengan Indonesia?
Paris berhasil menduduki posisi pertama dengan skor keseluruhan 7,2 dari skala 10. Hasil tersebut menjadi kejutan karena ibu kota Prancis selama ini lebih dikenal dengan restoran fine dining, kafe klasik, dan pastry dibandingkan jajanan kaki lima.
Keberhasilan Paris tidak lepas dari tingginya kualitas para pedagang street food yang ada di kota tersebut. Sebanyak 69,1 persen dari total 401 tempat makan kaki lima memperoleh rating minimal empat bintang dari pelanggan.
Selain kualitas, persebaran pedagang juga menjadi nilai tambah. Paris memiliki kepadatan sekitar 3,82 pedagang street food per kilometer persegi sehingga wisatawan dapat dengan mudah menemukan berbagai pilihan makanan saat menjelajahi kota.
Posisi kedua ditempati Athena, Yunani, dengan skor 6,9. Kota ini memperoleh nilai tinggi berkat keragaman kuliner yang mencapai 29 jenis makanan serta kepadatan pedagang sebanyak 4,21 per kilometer persegi.
Athena dikenal sebagai salah satu kota yang berhasil mempertahankan kuliner tradisional di tengah perkembangan industri pariwisata modern. Wisatawan dapat menikmati berbagai hidangan khas Yunani dengan harga yang relatif terjangkau.
Peringkat ketiga diraih Thessaloniki yang juga berasal dari Yunani. Kota ini memperoleh skor 6,1 dan memiliki keunggulan pada aspek keterjangkauan harga makanan.
Sebanyak 77,1 persen pilihan street food di Thessaloniki dikategorikan sebagai makanan yang ramah di kantong. Hal tersebut menjadikannya destinasi menarik bagi wisatawan yang ingin menikmati kuliner tanpa harus mengeluarkan biaya besar.
Barcelona dari Spanyol berada di posisi keempat. Kota ini terkenal dengan kombinasi cita rasa Mediterania serta aneka makanan khas yang mudah ditemukan di kawasan wisata maupun pusat kota.
Sementara itu, London berhasil menempati posisi kelima. Meski dikenal sebagai salah satu kota dengan biaya hidup tinggi, London justru unggul dalam variasi kuliner.
Menurut hasil penelitian, London menawarkan hingga 39 jenis hidangan berbeda. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan seluruh kota lain dalam daftar.
Rhodes yang berada di Yunani menempati posisi keenam. Meski tidak masuk tiga besar, kota ini memiliki kualitas street food yang sangat baik.
Sebanyak 82 persen pedagang makanan kaki lima di Rhodes memperoleh rating minimal empat bintang. Persentase tersebut menjadi yang tertinggi dalam penelitian Radical Storage.
Roma berada di posisi ketujuh. Kota di Italia tersebut selama ini dikenal sebagai surga kuliner yang menghadirkan pizza, pasta, hingga berbagai makanan tradisional yang banyak dijual di area wisata.
Hanoi menempati posisi kedelapan. Kota di Vietnam sebenarnya sudah lama dikenal sebagai salah satu destinasi street food terbaik di Asia berkat sajian pho, banh mi, hingga berbagai makanan lokal yang kaya cita rasa.
Budapest dari Hungaria berada di posisi kesembilan. Kota ini menawarkan perpaduan kuliner tradisional Eropa Tengah dengan berbagai makanan modern yang menarik perhatian wisatawan.
Posisi kesepuluh ditempati Amsterdam, Belanda. Kota ini memiliki pilihan street food yang cukup beragam, mulai dari makanan khas Belanda hingga hidangan internasional yang mudah ditemukan di berbagai kawasan wisata.
Daftar 10 Kota Street Food Terbaik Dunia
Berdasarkan hasil studi Radical Storage, berikut daftar lengkap kota dengan street food terbaik di dunia.
-
Paris, Prancis.
-
Athena, Yunani.
-
Thessaloniki, Yunani.
-
Barcelona, Spanyol.
-
London, Inggris.
-
Rhodes, Yunani.
-
Roma, Italia.
-
Hanoi, Vietnam.
-
Budapest, Hungaria.
-
Amsterdam, Belanda.
Daftar tersebut memperlihatkan dominasi kota kota di kawasan Eropa. Yunani bahkan berhasil menempatkan tiga kotanya sekaligus ke dalam sepuluh besar, menunjukkan kekuatan negara tersebut dalam menghadirkan pengalaman kuliner kaki lima yang berkualitas.
Lalu bagaimana dengan Indonesia?
Dalam daftar 10 besar yang dirilis Radical Storage, belum ada satu pun kota di Indonesia yang berhasil masuk peringkat. Padahal Indonesia dikenal luas memiliki kekayaan kuliner jalanan yang sangat beragam, mulai dari sate, bakso, nasi goreng, siomay, hingga aneka jajanan tradisional yang menjadi favorit wisatawan domestik maupun mancanegara.
Tidak masuknya kota dari Indonesia bukan berarti kualitas street food Tanah Air kalah. Penilaian dalam studi ini menggunakan indikator yang sangat spesifik, termasuk kepadatan pedagang berdasarkan luas wilayah, jumlah tempat makan dengan rating tinggi, variasi menu yang terdokumentasi, serta ketersediaan pilihan vegetarian, vegan, dan bebas gluten.
Faktor faktor tersebut dapat memengaruhi hasil akhir meskipun sebuah kota memiliki reputasi kuliner yang sangat baik. Selain itu, penelitian hanya menganalisis kota kota yang masuk dalam daftar destinasi wisata internasional dengan data yang tersedia pada platform penilaian yang digunakan.
Bagi wisatawan, hasil studi ini dapat menjadi referensi menarik untuk mencari pengalaman kuliner saat berkunjung ke luar negeri. Setiap kota menawarkan karakter street food yang berbeda, mulai dari hidangan tradisional hingga inovasi kuliner modern yang mencerminkan budaya setempat.
Di sisi lain, Indonesia tetap memiliki peluang besar untuk masuk dalam daftar serupa pada masa mendatang. Dengan kekayaan kuliner yang dimiliki berbagai kota seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, hingga Medan, potensi street food Indonesia masih sangat besar untuk mendapat pengakuan lebih luas di tingkat internasional.
Hasil studi Radical Storage juga menunjukkan bahwa pengalaman menikmati street food kini menjadi salah satu faktor penting dalam industri pariwisata global. Wisatawan tidak lagi hanya mencari makanan yang lezat, tetapi juga mempertimbangkan kualitas, keberagaman, kemudahan akses, serta harga yang sesuai dengan anggaran perjalanan mereka.
(seo)

























