Operasi penyelamatan KM Mutiara Sentosa II ini pun melibatkan Basarnas, Kementerian Perhubungan, TNI AL, Polairud, serta sejumlah kapal niaga yang berada di sekitar lokasi, seperti TB Hasnur 26, KM Prakarsa Mas, KM Meratus Pematang Siantar, dan KM Transco Arafura. Kementerian Perhubungan juga mengerahkan kapal patroli KPLP KN Grantin P.211 dan menyiapkan KN Masalembo untuk memperkuat proses evakuasi.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi meninjau langsung operasi penyelamatan dari Pelabuhan Kalianget, Sumenep. Ia memastikan korban yang berhasil dievakuasi akan dibawa ke Surabaya untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut, sementara Posko Terpadu juga dibuka di Terminal Gapura Surya Nusantara, Pelabuhan Tanjung Perak.
Hingga Senin (3/8/2026), operasi SAR masih berlangsung. Berdasarkan data Basarnas, kapal mengangkut 271 orang yang terdiri atas 232 penumpang dan 39 awak kapal. Sedikitnya lima orang dilaporkan meninggal dunia, 225 orang berhasil dievakuasi, sementara puluhan lainnya masih dalam pencarian. Namun, penyebab kebakaran masih dalam proses investigasi.
Insiden KM Mutiara Sentosa II tentunya kian menambah daftar kecelakaan kapal yang terjadi sepanjang 2026.
Belum lama ini, diakhir bulan Juli lalu terjadi insiden tenggelamnya KM Nurul Salsa di Perairan Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Insiden ini sendiri bermula pada Rabu (15/7/2026), di mana kapal tersebut diketahui berlayar dari Pulau Jampea menuju Benteng Selayar sekitar pukul 05.00 WITA dengan membawa puluhan penumpang.
Awalnya pelayaran berlangsung normal, namun di tengah perjalanan kapal kemudian mengalami gangguan mesin saat berada di perairan sebelah barat Pulau Polassi, sekitar 43 nautical mile (sekitar 80 kilometer) dari Pelabuhan Benteng.
Akibatnya kondisi ini membuat kapal tidak dapat melanjutkan perjalanan dan terombang-ambing di tengah laut. Setelah beberapa waktu dihantam gelombang dan tidak mampu bertahan, kapal akhirnya tenggelam di perairan Laut Flores.
Adapun Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii membeberkan alasan mengentikan operasi pencarian dan pertolongan terhadap korban kapal KM Nurul Salsa.
Menurutnya, operasi pencarian dan pertolongan sudah dinyatakan tidak efektif, meski beberapa korban masih dinyatakan hilang. Dia mengatakan keputusan untuk menghentikan operasi ini diambil bersama keluarga korban. Sehingga, sejauh ini tidak ada keluarga korban yang meminta Basarnas untuk kembali melanjutkannya.
"Beberapa korban memang statusnya dinyatakan hilang. Itu keputusan diambil bersama karena memang sudah dinyatakan tidak efektif untuk operasi dilaksanakan," ujar Syafii kepada awak media, dikutip Rabu (29/07/2026).
Sementara itu terakhir diketahui setidaknya Tim SAR Gabungan sebanyak 14 orang dinyatakan hilang.
(ain)



























