Namun, khusus bagi rupiah, hari ini akan mendapat ujian dari rilisnya data-data perdagangan dan inflasi yang akan dipaparkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pukul 11.00 WIB.
Inflasi Juli diperkirakan sedikit lebih lambat menjadi 3,16% secara bulanan, turun dari 3,34% dari inflasi Juni, tertopang oleh stabilnya harga bahan bakar minyak (bbm).
Namun, neraca perdagangan diproyeksikan masih akan defisit meski angkanya tidak sebesar Mei lalu, yang mencapai US$1,61 miliar. Konsensus yang dihimpun Bloomberg memperkirakan neraca perdagangan Indonesia Juni masih akan defisit sebesar US$756 juta.
Sementara, impor Indonesia pada Juni 2026 diperkirakan tumbuh 22,3%, nyaris tidak berubah dari realisasi Mei sebesar 22,16%. Sebaliknya, ekspor diperkirakan masih terkontraksi 0,4%, meski membaik dibanding kontraksi Mei sebesar 5,73%.
Jika proyeksi ini terealisasi, capaian impor yang lebih tinggi daripada ekspor, berpotensi kembali menekan rupiah lantaran kebutuhan dolar AS untuk membiayai transaksi juga ikut melonjak.
Selain itu, sinyak dari ekspor yang terlihat belum sepenuhnya pulih, meski ada perbaikan nilai kontraksinya, menunjukkan bahwa permintaan global terhadap produk Indonesia belum kembali kuat.
Arus dolar yang masuk dari ekspor masih terbatas, sementara arus dolar yang keluar untuk membayar impor tetap besar. Ketidakseimbangan ini menjadi salah satu faktor mengapa rupiah menjadi rentan dalam beberapa bulan terakhir.
Ekspektasi tersebut berpotensi menekan pergerakan rupiah hari ini, meski harga minyak sudah kembali jinak.
Selain itu, suku bunga US Treasury yang bertahan tinggi lebih lama berpotensi mempertahankan daya tarik aset dolar AS, dan mengurangi daya tarik obligasi pemerintah di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, dan berpotensi membatasi arus masuk portofolio asing, dan meningkatkan premi risiko domestik.
Meski begitu, sentimen positif berpotensi meliputi pasar dari membaiknya nilai kontraksi ekspor yang hanya 0,4% dari sebelumnya 5,73%.
Di sisi lain, defisit fiskal yang relatif rendah sebesar 0,76% dari Produk Domestik Bruto (PDB) dan berlanjutkan kemajuan investasi infrastruktur berpotensi memberi sejumlah dukungan struktural.
Namun, menurut Samuel Sekuritas, meningkatnya beban subsidi, melemahnya penerimaan pajak penghasilan korporasi, bertambahnya kebutuhan pembiayaan pemerintah daerah, serta penyesuaian program Makan Bergizi Gratis (MBG), masih berpotensi menggerus ruang fiskal pemerintah secara bertahap.
Samuel Sekuritas menambahkan, prospek pertumbuhan jangka panjang Indonesia tertopang oleh investasi, hilirisasi, dan transformasi ekonomi.
"Namun, perekonomian jangka pendek menjadi semakin terapar pada suku bunga eksternal, harga minyak, pembatasan perdagangan, tekanan nilai tukar, dan persepsi institusional," sebut Samuel Sekuritas dalam laporannya.
Karenanya, dalam kondisi seperti ini, kredibilitas dan efektivitas kebijakan akan jadi kunci hingga akhir 2026.
Di tengah berbagai sentimen domestik dan tekanan eksternal yang saling berkelindan ini, rupiah diperkirakan akan bergerak menguat terbatas, tertopang melandainya harga minyak dan penguatan sebagian besar mata uang Asia hari ini. Terlebih, jika capaian neraca perdagangan lebih baik dari proyeksi ekonom dan analis.
Analisis Teknikal
Secara teknikal nilai tukar rupiah ada potensi melemah hari ini, terbentur resistancenya, dengan laju pelemahan yang terbatas di rentang sempitnya, dengan mencermati support terdekat menuju level Rp18.040/US$ yang merupakan support pertama dengan target pelemahan kedua akan tertahan di Rp18.080/US$.
Apabila kembali break kedua support tersebut, berpotensi melemah lanjutan dengan menuju level Rp18.170/US$ sebagai support paling terkuatnya dalam time frame daily, hingga perdagangan sepekan.
Jika nilai rupiah terjadi penguatan dengan volume besarnya berhasil menembus resistance, menarik dicermati area level Rp17.900/US$ dan selanjutnya Rp17.800/US$ secara potensial, terlebih lagi ada resistance Rp17.700/US$.
Secara teknikal nilai tukar rupiah ada potensi melemah hari ini, terbentur resistancenya, dengan laju pelemahan yang terbatas di rentang sempitnya, dengan mencermati support terdekat menuju level Rp18.040/US$ yang merupakan support pertama dengan target pelemahan kedua akan tertahan di Rp18.080/US$.
Apabila kembali break kedua support tersebut, berpotensi melemah lanjutan dengan menuju level Rp18.170/US$ sebagai support paling terkuatnya dalam time frame daily, hingga perdagangan sepekan.
Jika nilai rupiah terjadi penguatan dengan volume besarnya berhasil menembus resistance, menarik dicermati area level Rp17.900/US$ dan selanjutnya Rp17.800/US$ secara potensial, terlebih lagi ada resistance Rp17.700/US$.
(riset)



























