Presiden AS Donald Trump menyampaikan kepada Axios pada hari Senin (27/7) bahwa "pembicaraan mendalam" sedang berlangsung, meski ia tidak merinci apakah pembahasan tersebut secara khusus mengenai Selat Hormuz. Diskusi tersebut sebagian besar berlangsung antara Iran dan Oman, dilaporkan oleh Axios, dengan keterlibatan Qatar, Pakistan, Mesir, serta utusan Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner.
Jalur tengah tersebut kemungkinan berisi ranjau laut yang ditempatkan oleh Iran, menurut para sumber, dan harus dibersihkan terlebih dahulu sebelum kapal-kapal dapat menggunakannya secara teratur. Inggris, Prancis, dan negara-negara Eropa lainnya menyatakan dapat memimpin upaya pembersihan ranjau, namun hanya setelah situasi dinilai aman untuk melaksanakannya.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth tengah mendesak rekannya dari Inggris, Wes Streeting, untuk segera menjadi tuan rumah KTT mengenai perlindungan lalu lintas maritim di Selat Hormuz dalam waktu dekat.
Kementerian Luar Negeri Oman tidak segera memberikan tanggapan atas permintaan komentar.
Lalu lintas di Selat Hormuz telah menjadi hambatan terbesar dalam perundingan damai antara AS dan Iran. Kesepakatan sementara yang mereka tandatangani pada pertengahan Juni—yang dimaksudkan untuk memulai kembali pembicaraan mengenai program nuklir Iran dan menuju penghentian permusuhan secara permanen—runtuh sekitar tiga minggu lalu. Hal itu terjadi setelah Iran menyerang kapal-kapal tanker yang melintasi Hormuz dengan menegaskan bahwa mereka membutuhkan izin Teheran terlebih dahulu, yang kemudian dibalas AS dengan melancarkan serangan udara harian ke wilayah Iran.
Kedua belah pihak telah menahan bentrokan mereka sejak hari Jumat, di mana Trump menyatakan ingin memberikan kesempatan bagi jalur diplomasi.
Meskipun terjadi jeda serangan, hampir tidak ada kapal yang bergerak melalui Selat Hormuz, setidaknya dengan perangkat pelacak lokasi yang aktif. Kondisi ini turut mengerek naik harga energi mengingat peran vital jalur air tersebut sebagai sarana distribusi pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
Sejak gencatan senjata pada bulan April, beberapa kapal yang melintasi selat tersebut memperoleh izin dari Iran dan mengambil rute utara. Sebagian besar kapal lainnya menggunakan jalur selatan dengan mematikan transponder mereka guna menghindari deteksi oleh Iran serta mendapatkan bantuan dari militer AS.
Sejak perang pecah—diawali dengan serangan AS-Israel ke Iran—Teheran menyatakan akan mengelola pelayaran di dalam dan sekitar Hormuz, sebuah langkah yang ditolak keras oleh AS dan para sekutunya. Iran kini tengah berupaya membujuk Oman agar menyetujui sistem pengelolaan bersama, yang kemungkinan bakal mencakup pengenaan biaya tertentu bagi kapal-kapal yang melintas.
(bbn)





























