Logo Bloomberg Technoz

Pernyataan Trump muncul setelah AS menahan diri dari menyerang Iran selama tiga hari berturut-turut hingga Senin, meski sempat melontarkan ancaman serangan baru berskala besar pekan lalu. Teheran, di sisi lain, menghentikan serangan terhadap negara-negara Teluk seperti Kuwait. Kedua belah pihak kembali bertempur dalam beberapa pekan terakhir setelah kesepakatan damai sementara yang ditandatangani bulan lalu secara efektif runtuh akibat krisis di Selat Hormuz.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menyatakan pada Senin bahwa meskipun “ada kemungkinan para mediator menyampaikan pesan dari pihak AS mengenai perkembangan saat ini,” tidak ada negosiasi formal yang sedang berlangsung saat ini.

Di tempat terpisah, Oman dan Iran tengah berupaya mencapai kesepakatan untuk membuka kembali jalur pelayaran melalui Selat Hormuz, menurut sejumlah sumber yang memahami masalah tersebut dan meminta untuk tidak disebutkan namanya karena membahas isu sensitif.

Ketegangan di kawasan tetap tinggi. Kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim pada hari Senin bahwa mereka menargetkan fasilitas minyak Arab Saudi dengan drone, meskipun tidak menyebutkan kapan serangan itu terjadi. Arab Saudi belum mengumumkan adanya serangan dari Yaman sejak Sabtu pagi, namun menyatakan pada hari Senin bahwa mereka telah mencegat beberapa drone yang diluncurkan dari Irak ke arah fasilitas minyaknya.

Axios pada Minggu melaporkan bahwa Laksamana Brad Cooper, komandan tertinggi militer AS di Timur Tengah, merekomendasikan penghentian serangan karena operasi tersebut dinilai telah mencapai batas efektivitasnya. Laporan itu mengutip sejumlah sumber di kawasan. Sementara itu, The New York Times melaporkan bahwa para penasihat militer meminta Gedung Putih tidak meningkatkan eskalasi konflik karena persediaan rudal pencegat bernilai tinggi semakin menipis.

Dalam pertemuan dengan Trump pekan lalu, Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine disebut mengatakan bahwa serangan baru terhadap Iran masih memungkinkan, tetapi akan memunculkan kekhawatiran terkait stok amunisi penting milik AS, menurut seseorang yang mengetahui pembicaraan tersebut. Meski demikian, sumber itu menegaskan bahwa kekhawatiran mengenai menipisnya amunisi bukanlah pertimbangan utama.

Pada Senin, Trump mengatakan Amerika Serikat masih memiliki "banyak amunisi", namun mengakui bahwa "sejujurnya saya ingin memiliki lebih banyak." Ia menyalahkan mantan Presiden Joe Biden dan pengiriman senjata ke Ukraina sebagai penyebab berkurangnya persediaan amunisi AS, khususnya rudal pencegat canggih seperti Patriot yang permintaannya tinggi dan sulit digantikan.

"Banyak peralatan sedang diproduksi—terutama Patriot," kata Trump kepada wartawan. "Kami berada dalam kondisi yang sangat baik. Namun, untuk beberapa sistem yang lebih canggih, tentu kami ingin jumlahnya lebih banyak."

Militer Iran menyatakan menghentikan serangan balasan terhadap pangkalan dan pasukan Amerika Serikat di kawasan sebagai respons atas keputusan Trump menunda serangan. Dalam dua pekan sebelum jeda operasi militer AS pada Jumat lalu, Republik Islam Iran hampir setiap hari menyerang sasaran di Kuwait, Bahrain, dan Yordania.

Harga minyak mentah Brent turun hampir 6% pada perdagangan awal Senin hingga berada di bawah US$91 per barel, setelah pekan lalu melonjak 10% akibat meningkatnya intensitas konflik. Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat juga melemah.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dijadwalkan bertemu Trump di Washington pada Selasa. Netanyahu mengatakan akan mendorong Presiden AS untuk tetap melakukan "pengawasan terus-menerus" terhadap program nuklir Iran, yang kini menjadi salah satu isu yang belum terselesaikan setelah gagalnya kesepakatan damai sementara.

Grafik harga minyak. (Sumber: Bloomberg)

Iran juga menegaskan tidak ada perubahan terhadap status Selat Hormuz, yang berarti Teheran kemungkinan akan tetap menargetkan kapal-kapal komersial yang melintas tanpa izin dari pihaknya. Lalu lintas di jalur strategis yang sebelumnya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia itu masih sangat minim. Sementara itu, AS tetap mempertahankan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Meredanya pertempuran juga terjadi setelah pejabat Iran dan Oman bertemu pada akhir pekan dalam upaya baru mencari solusi bagi pelayaran di Selat Hormuz. Iran menyebut pembicaraan tersebut berlangsung konstruktif dan menghasilkan sejumlah kemajuan, meski tidak merinci hasilnya serta menyatakan konsultasi masih terus berlanjut.

Dalam beberapa pekan terakhir, Iran berupaya meyakinkan Oman untuk membentuk sistem pengelolaan bersama Selat Hormuz yang pada praktiknya memungkinkan pemberlakuan biaya bagi kapal-kapal yang melintas. Belum diketahui apakah usulan tersebut masih menjadi bagian dari pembahasan, namun Teheran secara konsisten menyatakan ingin mengendalikan lalu lintas di jalur strategis tersebut.

Bentrok antara Houthi dan Arab Saudi sepanjang pekan lalu juga meningkatkan risiko bagi pelayaran internasional. Kelompok Houthi yang berbasis di Yaman menyerang kapal-kapal di bagian selatan Laut Merah setelah mengancam seluruh kapal yang berlabuh di pelabuhan Arab Saudi.

Koalisi pimpinan Arab Saudi kemudian melancarkan serangan terhadap posisi Houthi di Yaman pada Jumat dan Sabtu. Sebagai balasan, kelompok Houthi menyerang kota pelabuhan Yanbu dan Jizan di Arab Saudi menggunakan rudal dan drone. Hingga kini belum ada konfirmasi dari pemerintah Arab Saudi maupun perusahaan minyak Saudi Aramco, yang fasilitasnya diklaim menjadi sasaran serangan Houthi.

(bbn)

No more pages