Logo Bloomberg Technoz

Selain itu, suku bunga global juga diperkirakan tetap tinggi lebih lama (higher for longer). Serta ketidakpastian geopolitik masih mengintai negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. 

Faktor-faktor ini memang sudah lebih dulu menekan aset-aset Indonesia, termasuk obligasi atau SUN. Namun demikian, pengunduran diri Perry menjadi katalis baru yang berpotensi memperbesar kehati-hatian investor.

Bloomberg Economics bahkan menilai perubahan mendadak di pucuk pimpinan BI berpotensi menambah risiko bagi aset Indonesia apabila pasar mulai meragukan independensi bank sentral. Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan.

Selama bertahun-tahun, pasar menilai BI relatif konsisten menjalankan mandat menjaga stabilitas nilai tukar, inflasi, dan sistem keuangan meski harus menghadapi pandemi, lonjakan inflasi global, hingga agresivitas kenaikan suku bunga Federal Reserve.

Di tengah tekanan ini, sejumlah tenor masih mencatat penurunan yield seperti tenor 5 tahun yang turun sebesar 4,9 bps. Namun, yield juga semakin datar. 

Terlihat dari yield SUN tenor 1 tahun berada di level 7,08%, sedangkan tenor 10 tahun mencapai 7,37% dan tenor 30 tahun justru lebih rendah di 7,36%. 

Kurva yield yang cenderung mendatar mencerminkan ekspektasi era suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama, sementara ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter masih terbatas. 

Sementara di pasar obligasi pemerintah berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS) (INDON) tenor 10 tahun tercatat turun 3,4 bps menjadi 5,62%. 

Meski begitu, Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, menilai meningkatnya risiko kebijakan moneter mendorong pergerakan yield SUN 10 tahun di rentang 7,35-7,45%, dan INDON di kisaran 5,7%-5,8%. 

Risiko Naik, CDS Terungkit

Pergerakan CDS INDON 5 tahun, selama sebulan terakhir per 27 Juli 2026. (Bloomberg)

Risiko kebijakan moneter ini juga yang membuat Credit Default Swap (CDS) INDON 5 tahun berada di 93,96. CDS selama ini menjadi salah satu barometer persepsi investor global terhadap risiko gagal bayar (default risk) suatu negara. 

Memang, level tersebut masih berada di bawah masa krisis seperti pandemi Covid-19, yang sempat menyentuh 210,4 pada 2020. Namun, dibandingkan beberapa bulan sebelumnya, kenaikan CDS menggambarkan investor meminta premi risiko yang lebih tinggi untuk memegang aset-aset Indonesia. 

Dibandingkan negara tetangga di kawasan, CDS Indonesia relatif lebih tinggi. CDS Malaysia, misalnya, hanya 37,3. Begitu juga Thailand di posisi 44,2, dan India 91,95. 

Dari angka CDS yang berubah secara dinamis dan lebih realtime daripada peringkat utang, tergambar bahwa pasar obligasi tak cuma memperdagangkan suku bunga, tetapi juga kepercayaan. Sebab, kredibilitas bank sentral menjadi salah satu aset yang paling berharga lantaran menjadi jangkar ekspektasi investor. 

(dsp/aji)

No more pages