Logo Bloomberg Technoz

Selain itu, pengurangan bobot kendaraan (lightweighting) menjadi fokus utama produsen mobil listrik guna meningkatkan efisiensi daya, sehingga ikut menyegarkan pasar aluminium.

Penggunaan rangka aluminium berbasis bauksit terbukti mampu mereduksi bobot kendaraan hingga 40% dibandingkan dengan material baja konvensional, sehingga memperpanjang jarak tempuh kendaraan dalam sekali pengisian daya.

“Para investor mulai melihat peluang terintegrasi ini. Jika dahulu refinery [bauksit menjadi] alumina hanya menjadi batu loncatan akhir, ke depan peluang paling menguntungkan ada pada rantai industri aluminium,” tambahnya. 

Cadangan Bauksit

Selain itu, Ronald juga menilai peningkatan investasi hilirisasi bauksit didukung adanya kepercayaan investor yang berakar pada besarnya cadangan bauksit Indonesia yang mencapai 2,86 miliar ton, dengan total potensi sumber daya hingga 7,78 miliar ton.

“Angka ini adalah jaminan dari ketersediaan bahan baku industri jangka panjang. Komitmen tersebut makin tebal setelah proyek ekosistem bauksit, alumina, hingga aluminium nasional mulai terlihat realisasinya,” ungkap Ronald. 

Produksi bauksit Indonesia./dok. Ditjen Minerba Kementerian ESDM

Untuk diketahui, berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), sektor bauksit menjadi motor utama pertumbuhan investasi hilirisasi pada kuartal II-2026 dengan mencatatkan realisasi senilai Rp40,1 triliun.

Angka tersebut meroket 193% dibandingkan dengan kuartal-I 2026 yang senilai Rp13,7 triliun, sekaligus menggeser dominasi nikel dalam realisasi investasi hilirisasi di Tanah Air.

Posisi investasi hilirisasi bauksit disusul oleh nikel yang mencatatkan realisasi senilai Rp29,4 triliun, tembaga Rp16,7 triliun, besi baja Rp13,2 triliun, pasir silika Rp4 triliun, serta komoditas lainnya seperti timah, emas, perak, kobalt, mangan, batu bara, aspal buton, dan logam tanah jarang sejumlah Rp4,7 triliun.

Dilirik China

Pada medio April, Tsingshan Holding Group Co. dikabarkan sedang bernegosiasi dengan raksasa perdagangan komoditas Mercuria Energy Group, Glencore Plc, dan Trafigura Group untuk mengamankan investasi di smelter aluminium barunya senilai US$3 miliar di Indonesia.

Kesepakatan antara Tsingshan dan perusahaan perdagangan tersebut dikabarkan berkaitan dengan saham minoritas di pabrik peleburan kawasan industri Weda Bay akan memberikan para pedagang tersebut bagian dari hasil produksi dari fasilitas berkapasitas 800.000 ton tersebut, kata orang-orang yang mengetahui masalah ini kepada Bloomberg.

Tsingshan — sebuah perusahaan yang sebelumnya telah menjadi kunci bagi munculnya Indonesia sebagai pemain dominan di sektor nikel — biasanya bermitra dengan produsen lokal dan perusahaan logam terkemuka China.

Di sektor aluminium, mereka telah bekerja sama dengan Huafon Group dan Xinfa Group untuk membangun dan mengoperasikan pabrik peleburan di kawasan industri Morowali, Sulawesi, dan di Maluku Utara, tempat Weda Bay berada.

Rencana pembangunan smelter aluminium Tsingshan./Bloomberg

Belanja untuk proyek aluminium baru ini diperkirakan mencapai lebih dari US$3 miliar, termasuk pabrik peleburan dan fasilitas pembangkit listrik terkait, kata sumber tersebut.

Proyek ini akan dikembangkan dalam dua fase, masing-masing dengan kapasitas 400.000 ton, tambah mereka.

Tsingshan— milik taipan Xiang Guangda — juga mempercepat proyek-proyek aluminium lainnya untuk memungkinkan grup tersebut masuk pada saat terjadi gejolak pasokan.

Dua pabrik di Indonesia akan menambah kapasitas produksi total sekitar 600.000 ton per tahun paling cepat Mei, kata sumber tersebut — lebih cepat dari target kuartal III-2026 yang direncanakan.

Xiang, yang taruhan besarnya pada nikel mengguncang London Metal Exchange (LME) pada 2022, adalah salah satu dari sejumlah pengusaha Negeri Panda yang meningkatkan kapasitas aluminium di Indonesia.

Adapun, China selaku produsen aluminium terbesar di dunia, telah mencapai batas produksi domestik, mendorong perusahaan untuk mencari tempat alternatif dengan energi murah dan kebijakan yang akomodatif.

Kebutuhan Bauksit

Di sisi lain, berdasarkan data analis logam dasar Fastmarkets Andry Farida pada akhir April, kapasitas produksi pabrik pengolahan alumina di Indonesia mencapai 9 juta ton per tahun.

Pabrik pengolahan alumina tersebut membutuhkan sekitar 33—36 juta ton bauksit per tahun.

Terdapat total 16 pabrik pengolahan yang beroperasi dan masih dalam tahap rencana pembangunan, nantinya kapasitas produksi bisa mencapai 27,3 juta ton.

Jika seluruh pabrik pengolahan tersebut beroperasi, kebutuhan bijih bauksit bisa mencapai 95—105 juta ton per tahun.

Untuk sektor aluminium, terdapat empat smelter yang sudah beroperasi dengan produksi 1,1 juta ton dari total kapasitas produksi 1,98 juta ton. Smelter tersebut membutuhkan sekitar 2,2 juta ton alumina per tahun.

Proyeksi kapasitas produksi alumina di Indonesia. (Bloomberg)

Pabrik pengolahan alumina yang sudah beroperasi a.l. Well Harvest Winning (Hongqiao) dengan produksi 2 juta ton, PT Indonesia Chemical Alumina (ICA) sebesar 300.000 ton, dan PT Borneo Alumina Indonesia (BAI) sebesar 1 juta ton (potensial 2 juta ton).

Lalu, PT BAI Bintan Alumina Indonesia (Nanshan) sebesar 4 juta ton, serta PT Borneo Alumindo Prima - BAP (Jinjing Group) sebesar 1,75 juta ton dengan potensi ekspansi hingga 6 juta ton.

Sementara itu, sejumlah proyek masih belum beroperasi, yakni PT Kalimantan Alumina Nusantara (KAN) dengan kapasitas potensial 1 juta ton, East Hope Group sebesar 6 juta ton, PT Laman Mining sebesar 4 juta ton, serta PT Dharma Inti Bersama (DIB) Harita sebesar 2 juta ton.

Proyek lainnya a.l. PT Tian Shan Alumina Indonesia, PT Quality Sukses Sejahtera, PT Dinamika Sejahtera Mandiri, PT Parenggan Makmur Sejahtera, PT Persada Pratama Cemerlang, PT Sumber Bumi Marau, dan PT Kalbar Bumi Perkasa juga tercatat belum beroperasi tanpa rincian kapasitas tambahan.

Untuk smelter aluminium yang telah beroperasi meliputi Inalum dengan produksi 250.000 ton (potensi 600.000 ton), Huachin Aluminium Indonesia sebesar 500.000 ton (potensial 1 juta ton), Alamtri (Adaro) Kaltara sebesar 100.000 ton dengan rencana peningkatan kapasitas hingga 500.000 ton dan potensi 1,5 juta ton, serta Tsingshan JV Xinfa – Juwan sebesar 250.000 ton.

Adapun, beberapa proyek dijadwalkan mulai beroperasi pada 2026, yakni Tsingshan JV Xinfa – Taijing dengan kapasitas 180.000 ton (potensial 600.000 ton), Tsingshan JV Xinfa – Xianfeng sebesar 50.000 ton (potensial 250.000 ton), serta PT Bintan Electrolytic Aluminium (BEA) sebesar 250.000 ton.

Sementara itu, proyek lain masih belum beroperasi a.l. Shandong Weiqiao–Harita JV dan Nanshan yang masing-masing memiliki potensi kapasitas 1 juta ton, serta sejumlah proyek dalam tahap rencana seperti milik East Hope Group kapasitas produksi 2,4 juta ton), dan CMOC Group kapasitas produksi  2 juta ton, Bosai Minerals Group kapasitas produksi 1 juta ton.

Selanjutnya, PT Borneo Alumindo Prima Kaltara kapasitas produksi 1 juta ton, Dharma Inti Bersama (DIB) Harita kapasitas produksi 1 juta ton, dan PT Cita Mineral Investindo Tbk. dengan kapasitas produksi mencapai 500.00 ton.

(wdh)

No more pages