Meski investor internasional mencatat aksi beli senilai US$57,4 juta di pasar obligasi Thailand pada 20 Juli, tetapi penguatan baht masih tertahan. Begitu juga yang terjadi di Taiwan, kemarin investor tercatat membukukan aksi beli senilai US$10,4 juta di saham Taiwan namun mata uangnya melemah terbatas.
Sebaliknya, Malaysia yang dilanda aksi jual di pasar saham senilai US$4,4 juta pada 20 Juli justru pagi ini menguat lantaran masih tertopang oleh data pertumbuhan ekonomi sebesar 5,8%.
Sementara, rupiah masih tertekan oleh aksi jual di pasar obligasi yang terjadi kemarin. Pada perdagangan Senin siang (20/7/2026), terjadi kenaikan yield pada hampir semua tenor, dengan tekanan terbesar pada tenor pendek hingga menengah. Tertinggi, yield SUN 4 tahun melonjak 8 basis poin (bps) menjadi 7,27%, disusul tenor 5 tahun naik 4,7 bps ke level 7,25%.
Berdasarkan data yang dihimpun Bloomberg per tanggal 17 Juli, investor melepas obligasi RI senilai US$133,3 juta.
Menurut Permata Bank Institute for Economic Research (PIER), pelemahan rupiah lebih banyak dipengaruhi oleh konflik geopolitik Timur Tengah, perubahan ekspektasi kebijakan The Fed, kenaikan harga minyak, penguatan dolar AS, perubahan sentimen investor global.
Sementara, faktor domestik terutama memperburuk tekanan yang sudah muncul, seperti kekhawatiran terhadap independensi Bank Indonesia (BI), risiko twin deficit, dan meningkatnya outflow pasar saham domestik.
Menurut Mega Capital Sekuritas, rupiah berpotensi kembali melemah dengan berlanjutnya kenaikan pada yield SUN tenor 10 tahun ke rentang 7,3% hingga 7,35%.
Di tengah tekanan ini, pasar menilai BI akan kembali mengambil langkah hawkish dengan kembali menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang hasilnya akan diumumkan esok hari.
(dsp/aji)































