Logo Bloomberg Technoz

“Intensitas serangan yang meningkat sepanjang akhir pekan ini mengindikasikan bahwa konflik berpotensi meluas secara cakupan maupun durasi,” kata Saul Kavonic, analis energi senior di MST Marquee. “Serangan langsung ke infrastruktur minyak di kawasan tersebut, atau upaya sukses kelompok Houthi dalam melumpuhkan rute Laut Merah, akan menjadi pemicu utama yang mempercepat lonjakan harga.”

Kelompok Houthi di Yaman yang disokong Iran kerap mengganggu jalur pelayaran komersial di perairan Laut Merah setiap kali ketegangan di Timur Tengah meningkat. Minggu lalu, pimpinan Houthi bahkan mengancam akan menyerang fasilitas minyak Arab Saudi setelah meluncurkan rudal balistik dan drone ke arah wilayah tersebut.

Kuwait menjadi wilayah yang paling parah terdampak balasan Iran, sementara Bahrain juga tak luput dari sasaran serangan. Pihak militer Israel pada hari Minggu mengklaim berhasil mengintersepsi sebuah drone Iran di dekat perbatasan Israel-Suria. Di sisi lain, media lokal Iran melaporkan bahwa pasukan AS menggempur Pulau Qeshm di Teluk Persia, serta sejumlah kota di bagian selatan seperti Shadegan, Sirik, dan Hajiabad.

AS kini kembali memblokade Selat Hormuz, sementara serangan balasan Iran terhadap kapal-kapal di sekitar perairan tersebut mengancam skema perdagangan shuttle run yang biasa digunakan produsen Teluk Persia untuk mendistribusikan kargo minyak mereka. Menteri Energi AS Chris Wright menyatakan bahwa jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz memang mengalami penurunan, namun tanker-tanker berukuran lebih besar saat ini masih dapat melintas. Pernyataan tersebut disampaikannya dalam wawancara di program This Week milik stasiun TV ABC.

Pergerakan harga minyak:

  • Brent untuk kontrak September melonjak 3,3% menjadi US$90,99 per barel pada pukul 06.55 waktu Singapura.
  • WTI untuk kontrak Agustus naik 2,8% menjadi US$84,82 per barel.

(bbn)

No more pages