Fahrougi juga membantah isu yang menyebutkan adanya penghentian distribusi akibat kendala pembayaran kepada mitra transporter.
Dia memastikan bahwa kerja sama operasional dan skema administrasi dengan penyedia jasa angkut tetap berjalan sesuai dengan ketentuan profesional.
"Distribusi BBM tetap berjalan secara optimal. Armada mobil tangki terus bergerak melakukan pengiriman ke SPBU sesuai dengan skema penyaluran yang telah ditetapkan. Kami memastikan tidak ada penghentian distribusi akibat persoalan pembayaran kepada transporter sebagaimana diberitakan," tegasnya.
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut juga menegaskan informasi yang beredar di salah satu media mengenai adanya transporter yang disebut enggan menyalurkan BBM ke SPBU karena keterlambatan pembayaran tidak sesuai dengan kondisi operasional di lapangan.
“Masyarakat dapat memperoleh informasi resmi melalui kanal komunikasi Pertamina maupun menghubungi Pertamina Customer Solution 135 apabila membutuhkan informasi terkait dengan layanan dan distribusi BBM,” jelasnya.
Sebelumnya, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mengungkapkan kekosongan stok dan antrean BBM bersubsidi jenis Pertalite dan Solar di sejumlah daerah dipicu oleh aksi panic buying, serta migrasi konsumsi dari BBM nonsubsidi.
Kepala BPH Migas Wahyudi Anas menyatakan kenaikan volume konsumsi BBM bersubsidi di sejumlah daerah rata-rata mencapai 10%—15%. Namun, dia mengklaim kuota Jenis Bahan Bakar Khusus Penugasan (JBKP) Pertalite dan Jenis Bahan Bakar Tertentu (JBT) Solar tetap masih terkendali.
“Adanya indikasi antrean [terjadi karena] adanya shifting; perubahan pola pembelian BBM nonsubsidi. Banyak yang pindah menjadi subsidi. Itu sesuai regulasi, ketentuan, memang diizinkan dan dimungkinkan untuk masyarakat,” kata Wahyudi dalam konferensi pers di Komisi XII DPR, Kamis (16/7/2026).
Wahyudi berjanji antrean yang belakangan terjadi, khususnya di wilayah Sumatra, bakal segera terurai dalam waktu 1—2 hari ke depan.
“Saat ini kita semua terus berjuang keras untuk normalisasi dan paling lama 1 sampai 2 hari ke depan, insyaallah semua akan terurai dan cukup lancar kembali. Ini hanya masalah panic buying, ini hanya masalah kondisi yang kurang perhatian dari seluruh masyarakat yang sama-sama mengantre di SPBU-SPBU sekitarnya,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Pemasaran PT Pertamina Patra Niaga (PPN) Eko Ricky Susanto mengamini terjadinya perubahan pola konsumsi BBM dari jenis nonsubsidi menjadi bersubsidi.
Hal itu terefleksi dari volume penyaluran Pertalite yang naik 9,4% pada Juli dibandingkan dengan periode normal Januari—Mei 2026. Para rentang yang sama, serapan Pertamax justru turun 18%.
Eko menjelaskan rerata penyaluran Pertalite pada Juli 2026 naik 9,4% atau sekitar 7.129 kl per hari dari rerata normal, sementara Pertamax series turun 18% atau sekira 4.476 kl per hari dari rerata normal.
Eko juga mencatat pangsa konsumsi Pertalite pada periode tersebut naik 4,9% atau dari 75,4% menjadi 80,4%. Sebaliknya, pangsa Pertamax turun 4,4% menjadi 18,4% dari sebelumnya 23,2%.
“Perubahannya pada saat periode Januari—Mei untuk produk JBKP Pertalite, secara komposisi, [dari] sekitar 75% saat ini sudah bergeser ke 80%. Jadi hampir 5% komposisi BBM gasoline itu sudah bergeser ke BBM PSO [bersubsidi]. Dampaknya adalah saat ini produk-produk BBM JBU [nonsubsidi] khususnya Pertamax series terjadi penurunan [konsumsi] hampir 18% dibandingkan dengan periode sebelumnya,” kata Eko.
Dalam bahan paparannya dijelaskan tren peralihan konsumsi BBM nonsubsidi ke bersubsidi terjadi usai penyesuaian harga Pertamax pada 10 Juni 2026 sebesar 32% menjadi Rp16.250 per liter.
Selain itu, Eko melaporkan rerata penyaluran JBT Solar pada Juli 2026 naik 13,9% atau 6.725 kl per hari dari rerata normal. Dalam waktu yang sama, penyaluran produk gasoil atau diesel nonsubsidi Dex Series turun 6,4% atau 232 kiloliter per hari dari rerata normal.
Dengan begitu, proporsi konsumsi JBT Solar naik 1,2% menjadi 94,2% dari sebelumnya 93%. Sebaliknya, Dexlite turun 0,6% menjadi 3,5% dari sebelumnya 4,1%.
"Perilaku ini selain juga perubahan shifting dari konsumen ke sektor kendaraan juga ada beberapa sektor kendaraan yang didominasi industri juga mulai mengisi ke Biosolar di SPBU. Ini salah satu terjadi peningkatan lonjakan hampir di semua provinsi sepanjang periode April hingga bulan Juli,” tegasnya.
(smr/wdh)




























