"Kalau kuota kan secara nasional sudah sesuai," kata Laode menegaskan.
Ia membenarkan bahwa besaran kuota ini tetap mengacu pada angka proyeksi yang disepakati sebelumnya. Kendati volume kuota tahunan tidak diutak-atik, Kementerian ESDM akan bergerak cepat mengurai sumbatan distribusi secara taktis demi mempercepat pengisian di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
"Iya, jadi [pasokan] hariannya yang kita naikkan," tutur Laode.
Langkah peningkatan pasokan harian dan penambahan armada truk tangki ini diharapkan dapat memperpendek waktu tunggu (lead time) pengiriman BBM ke SPBU di Sumatra Utara.
Dengan demikian, antrean kendaraan yang sempat mengular di berbagai titik beberapa waktu terakhir dapat segera terurai tanpa harus menguras cadangan kuota nasional secara prematur.
Sebelumnya, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) berjanji antrean BBM yang terjadi di sejumlah wilayah di Sumut bakal terurai hari ini atau paling lambat besok, Sabtu (18/7/2026).
Kepala BPH Migas Wahyudi Anas menyatakan terus meninjau dan memantau daerah-daerah yang mengalami antrean dan kelangkaan stok BBM bersubsidi, Pertalite dan Solar, bersama-sama dengan PT Pertamina Patra Niaga (PPN).
Dia menilai kekosongan stok dan antrean panjang pembelian BBM bersubsidi terjadi gegara fenomena panic buying, serta perubahan pola konsumsi dari BBM nonsubsidi ke subsidi.
“Saat ini kita semua terus berjuang keras untuk normalisasi dan paling lama 1 sampai 2 hari ke depan, insyaallah semua akan terurai dan cukup lancar kembali. Ini hanya masalah panic buying, ini hanya masalah kondisi yang kurang perhatian dari seluruh masyarakat yang sama-sama mengantre di SPBU-SPBU sekitarnya,” kata Wahyudi dalam konferensi pers di Komisi XII DPR, Kamis (16/7/2026).
Wahyudi dalam pernyataannya mengindikasikan penguraian antrean dan kekosongan stok diprediksi rampung paling lambat besok, sebab Pertamina telah menginstruksikan penambahan armada distribusi BBM dan mengerahkan prajurit TNI untuk membantu distribusi BBM.
Bahkan, lanjut Wahyudi, operasional terminal BBM dan sejumlah SPBU diputuskan buka selama 24 jam agar antrean yang terjadi dapat segera terurai.
“Sehingga kita sudah sepakat alokasi BBM di setiap regional yang menjadi titik kepadatan dan titik peningkatan ekonomi di masyarakat, ini semua akan diperlancar dan akan dipenuhi semuanya,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa kekosongan stok dan antrean BBM bersubsidi jenis Pertalite dan Solar di sejumlah daerah dipicu oleh aksi panic buying, serta migrasi konsumsi dari BBM nonsubsidi.
“Adanya indikasi antrean [terjadi karena] adanya shifting; perubahan pola pembelian BBM nonsubsidi. Banyak yang pindah menjadi subsidi. Itu sesuai regulasi, ketentuan, memang diizinkan dan dimungkinkan untuk masyarakat,” kata Wahyudi.
Sebelum itu, Wahyudi melaporkan penyaluran JBKP Pertalite sepanjang 1 Januari—30 Juni 2026 mencapai 13,96 juta kiloliter (kl) atau mencapai 47,68% dari kuota 2026 sebanyak 29,27 juta kl.
Sementara itu, penyaluran JBT Solar mencapai 9,48 juta kl pada periode yang sama, atau 50,85% dari kuota penyaluran sepanjang tahun ini sejumlah 18,64 juta kl.
Dia menyatakan permintaan bahan bakar bersubsidi Pertalite dan Solar sama-sama mengalami kenaikan usai harga Pertamax Series dan Dex Series naik bulan lalu. Walhasil, terdapat peralihan konsumsi sebagian kalangan masyarakat dari BBM nonsubsidi ke BBM bersubsidi.
(smr/ros)

























