Logo Bloomberg Technoz

Dia pun mengaku sampai hari ini antrean panjang di hampir seluruh SPBU masih kerap terjadi. Bahkan di wilayah Langkat dan Deli Serdang, pasokan Pertalite disebut masih sulit diperoleh. Tak hanya itu, dia menuturkan antrean terparah terjadi di SPBU di jalur lintas, termasuk kawasan Jalan Medan-Binjai yang banyak dilalui truk. Akibatnya, hal ini memicu kemacetan panjang.

Adapun untuk mendapatkan BBM, Atika mengaku harus berpindah-pindah SPBU hingga, "Waktu itu ada sejaman juga [kami keliling cari BBM]."

Di sisi lain, kelangkaan BBM Subsidi Pertalite ini membuat sebagian masyarakat beralih membeli BBM eceran, meski harganya jauh lebih mahal mencapai sekitar Rp50.000 untuk tiga liter.
 
"Kadang orang kan di satu sisi dia dikejar waktu untuk kerja. Di satu sisi kan dia juga butuh minyak. Jadi dicari alternatif yang jual eceran," terangnya. 

Oleh karena itu, sebagai warga, Atika berharap persoalan distribusi BBM bersubsidi ini segera diselesaikan agar tidak terus mengganggu mobilitas masyarakat. Menurutnya, masyarakat hanya ingin memperoleh kepastian pasokan BBM tanpa harus menghadapi antrean panjang setiap hari.

Janji Segera Terurai

Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) berjanji antrean pembelian bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi di sejumlah wilayah di Sumatra Utara (Sumut) bakal terurai hari ini atau paling lambat besok, Sabtu (18/7/2026).

Kepala BPH Migas Wahyudi Anas menyatakan terus meninjau dan memantau daerah-daerah yang mengalami antrean dan kelangkaan stok BBM bersubsidi, Pertalite dan Solar, bersama-sama dengan PT Pertamina Patra Niaga (PPN).

Dia menilai kekosongan stok dan antrean panjang pembelian BBM bersubsidi terjadi gegara fenomena panic buying, serta perubahan pola konsumsi dari BBM nonsubsidi ke subsidi.

“Saat ini kita semua terus berjuang keras untuk normalisasi dan paling lama 1 sampai 2 hari ke depan, insyaallah semua akan terurai dan cukup lancar kembali. Ini hanya masalah panic buying, ini hanya masalah kondisi yang kurang perhatian dari seluruh masyarakat yang sama-sama mengantre di SPBU-SPBU sekitarnya,” kata Wahyudi dalam konferensi pers di Komisi XII DPR, Kamis (16/7/2026).

Adapun, Pertamina Patra Niaga mencatat terjadi perubahan konsumsi BBM dari jenis nonsubsidi menjadi bersubsidi, tecermin dari penyaluran Pertalite yang naik 9,4% dan Pertamax yang turun 18% pada Juli dibandingkan dengan periode Januari—Mei 2026.

Direktur Pemasaran PPN Eko Ricky Susanto menjelaskan rerata penyaluran Pertalite pada Juli 2026 naik 9,4% atau sekitar 7.129 kiloliter (kl) per hari dari rerata normal, sementara Pertamax series turun 18% atau sebesar 4.476 kl per hari dari rerata normal.

Eko juga mencatat proporsi penggunaan Pertalite mencapai 80,4% atau naik 4,9% pada Juli 2026 dari Januari—Mei 2026 sekitar 75,4%.

Sebaliknya, proporsi konsumsi Pertamax mencapai 18,4% atau turun 4,4% dari sebelumnya 23,2% pada periode yang sama.

“Jadi hampir 5% komposisi BBM gasoline itu sudah bergeser ke BBM PSO [bersubsidi]. Dampaknya adalah saat ini produk-produk BBM JBU khususnya Pertamax series terjadi penurunan hampir 18% dari periode sebelumnya,” kata Eko dalam RDP di Komisi XII DPR, Kamis (16/7/2026).

Dalam bahan paparan Eko, dijelaskan bahwa tren peralihan konsumsi BBM nonsubsidi ke bersubsidi terjadi usai penyesuaian harga Pertamax pada 10 Juni 2026 sebesar 32% menjadi Rp16.250 per liter.

Selain itu, Eko melaporkan rerata penyaluran Solar pada Juli 2026 naik 13,9% atau 6.725 kl per hari dari rerata normal.

Dalam waktu yang sama, produk Dex Series penyalurannya turun 6,4% atau 232 kl per hari dari rerata normal.

Dengan begitu, proporsi Solar dalam serapan bahan bakar diesel Pertamina mencapai 94,2% atau naik 1,2% dari sebelumnya 93%. Sementara itu, proporsi Dexlite menjadi 3,5% atau turun 0,6% dari sebelumnya 4,1%.

"Perilaku ini selain juga perubahan shifting dari konsumen ke sektor kendaraan juga ada beberapa sektor kendaraan yang didominasi industri juga mulai mengisi ke biosolar di SPBU. Ini salah satu terjadi peningkatan lonjakan hampir di semua provinsi sepanjang periode April hingga Juli,” tegasnya.

(prc/ros)

No more pages