Pada kuartal I-2026, Vietnam mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 7,83%, Indonesia 5,61%, dan Malaysia 5,4%. Sementara itu, Thailand dan Filipina tumbuh lebih moderat. Kondisi tersebut memberikan kesempatan bagi investor untuk memperoleh eksposur terhadap berbagai siklus pertumbuhan laba perusahaan, kredit, hingga investasi modal, bukan hanya bertumpu pada satu sumber pertumbuhan kawasan.
Shan juga melihat relokasi manufaktur global menuju Asia Tenggara kini telah menjadi tren struktural. Mengutip McKinsey, investasi manufaktur greenfield di kawasan meningkat sekitar 20% sepanjang 2019 hingga 2023.
Dalam periode yang sama, ekspor Vietnam meningkat dari US$320 miliar menjadi US$440 miliar, Indonesia dari US$180 miliar menjadi US$290 miliar, sedangkan Malaysia naik dari US$280 miliar menjadi US$370 miliar. Di sisi lain, investasi manufaktur China ke Asia Tenggara mencapai US$24 miliar pada 2023.
“Strategi China+1 melahirkan arsitektur produksi Asia yang semakin tersebar, bukan pemisahan total dari China,” ujar Shan.
Ia mengatakan tekanan tarif global justru mempercepat perubahan rantai pasok melalui relokasi produksi dan peningkatan kandungan lokal. Namun, ketergantungan terhadap bahan baku asal China tetap menjadi tantangan karena berpotensi memicu pengawasan aturan asal barang (rules of origin) yang lebih ketat serta menekan margin produsen lokal.
Selain manufaktur, Shan menilai gelombang investasi berikutnya akan didorong pembangunan infrastruktur digital. Berdasarkan proyeksi McKinsey, Asia Pasifik diperkirakan menyumbang sekitar 34% permintaan pusat data (data center) dunia pada 2030.
Sepanjang Januari 2024 hingga Mei 2026, AWS, Google, Microsoft, dan Oracle telah mengalokasikan investasi lebih dari US$160 miliar untuk membangun infrastruktur kecerdasan buatan (AI) di Asia Pasifik.
Menurut Shan, Johor di Malaysia, Chonburi di Thailand, serta Jakarta mulai berkembang sebagai koridor komputasi regional yang akan menciptakan efek berganda terhadap sektor kelistrikan, penguatan jaringan listrik, sistem pendingin data center, konektivitas serat optik, semikonduktor, rekayasa teknik, hingga kawasan industri.
Di luar infrastruktur digital, kebutuhan pembangunan infrastruktur fisik juga masih sangat besar. Shan mengutip McKinsey yang memperkirakan terdapat kesenjangan investasi sekitar US$60 miliar antara proyek infrastruktur yang telah diumumkan dengan kapasitas logistik yang dibutuhkan untuk menopang pertumbuhan perdagangan kawasan.
Menurutnya, pelabuhan, bandara, pergudangan, jaringan transmisi listrik, hingga konektivitas lintas negara menjadi peluang investasi yang sangat menarik dalam beberapa tahun mendatang.
Shan mengatakan masing-masing negara memiliki daya tarik investasi yang berbeda. Malaysia unggul pada sektor teknologi dan pusat data, Indonesia pada konsumsi domestik dan hilirisasi sumber daya alam, Thailand pada industri otomotif dan manufaktur, Vietnam pada ekspor manufaktur, sedangkan Filipina menawarkan potensi besar dari sektor jasa dan bonus demografi.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa pertumbuhan investasi asing harus mampu memberikan dampak nyata terhadap ekonomi domestik.
“Aktivitas perakitan yang dipimpin investor asing harus mampu menghasilkan nilai tambah yang lebih besar di dalam negeri serta meningkatkan produktivitas,” katanya.
Shan juga mengingatkan sejumlah risiko yang perlu diperhatikan investor, mulai dari meningkatnya proteksionisme, keterbatasan pasokan energi, volatilitas nilai tukar, inkonsistensi regulasi, hingga masih rendahnya partisipasi pemasok domestik dalam rantai pasok global.
Ia menegaskan bonus demografi hanya menjadi faktor pendukung, bukan jaminan keberhasilan investasi.
Menutup analisinya, Shan menilai kelima negara tersebut akan menjadi penentu arah investasi global di Asia Tenggara dalam dekade mendatang.
“Bagi investor global, pertanyaan strategis saat ini bukan lagi apakah ASEAN layak menjadi tujuan investasi, melainkan bagaimana alokasi investasi didistribusikan ke lima negara yang paling mampu mengubah skala ekonomi menjadi permintaan, investasi menjadi kapasitas produksi, serta adopsi teknologi menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan,” tutupnya.
(red)






























