Logo Bloomberg Technoz

“Akuisisi dengan nilai sebesar ini umumnya membutuhkan kombinasi sumber pendanaan, bukan hanya mengandalkan kas internal,” kata Fundamental Analyst di BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) Abida Massi Armand saat dihubungi, Kamis (16/7/2026).

Abida menilai pembiayaan dari utang sepenuhnya berisiko pada neraca BREN yang makin berat dengan bunga pinjaman naik tajam.

Dia berpendapat pembiayaan gabungan lewat utang, rights issue dan pinjaman modal dari PT Barito Pacific Tbk (BRPT) lebih realitis untuk diambil BREN.

“Yang perlu dicermati investor, komposisi pembiayaannya nanti, terutama porsi ekuitas versus utang dan seberapa besar dilusi bagi pemegang saham,” kata Abida.

Di sisi lain, analis dari Henan Putihrai Sekuritas Dennis Tay memproyeksikan belanja modal BREN akan mencapai sekitar US$4,9 miliar pada periode 2028 sampai 2031.

Belanja modal itu bakal dialihkan untuk pengembangan proyek panas bumi baru seperti Hamiding dan South Sekincau, serta proyek tenaga angin di Lombok dan Sukabumi.

“Pola investasi yang terkonsentrasi di awal ini diperkirakan akan menekan arus kas bebas untuk sementara waktu, menjadi negatif US$321 juta pada 2029 dan US$852 juta pada 2030, sebelum kembali positif menjadi US$183 juta pada 2031,” dikutip dari riset Henan yang disusun Dennis Tay, Kamis (16/7/2026).

Dennis memperkirakan arus kas bebas akan pulih tajam menjadi sekitar US$1,3 miliar pada 2032, didukung oleh lonjakan EBITDA dan operating leverage yang makin kuat.

Hanya saja, siklus pengembangan proyek yang panjang serta risiko keterlambatan dapat menekan arus kas lebih dalam yang ikut mengerek leverage BREN.

“Proyek panas bumi juga menghadapi risiko eksekusi, terutama terkait ketidakpastian pada tahap eksplorasi dan potensi pembengkakan biaya, yang dapat menurunkan efisiensi penggunaan modal,” kata Dennis.

Dari sisi keuangan, ekspansi berkelanjutan BREN pada pembangkit panas bumi dan tenaga angin diperkirakan akan mengubah profil laba perusahaan secara signifikan.

Dennis memproyeksikan EBITDA BREN tumbuh sekitar 22,3% secara CAGR selama 2025-2032.

“Didukung oleh operating leverage yang kuat dan model bisnis dengan margin yang secara struktural tinggi, di mana margin EBITDA diperkirakan tetap berada di atas 82%,” kata dia.

Akuisisi EDC berpotensi menjadi salah satu kesepakatan energi terbarukan terbesar di Asia dalam beberapa tahun terakhir, menurut data yang dikompilasi oleh Bloomberg.

Data tersebut juga menunjukan aksi korporasi itu akan menjadi salah satu akuisisi terbesar yang pernah terjadi di Filipina.

Para pemegang saham EDC juga mencakup Macquarie Asset Management dan investor kekayaan Singapura, GIC Pte. Perusahaan ini secara sukarela keluar dari Bursa Efek Filipina pada tahun 2018.

First Gen, yang dikendalikan oleh keluarga Lopez, adalah perusahaan energi bersih yang berbasis di Filipina dengan aset yang meliputi pembangkit listrik tenaga panas bumi, hidro, angin, surya, dan gas alam.

(naw)

No more pages