"Kapasitas kilang dalam negeri sudah jauh melampaui kebutuhan avtur penerbangan domestik," ujar Yayan saat dihubungi pada Rabu (15/7/2026).
Ekspor Avtur
Yayan menambahkan surplus solar yang masif ini secara definitif dapat menutup celah impor avtur fosil.
Kondisi tersebut bahkan membuka peluang besar bagi Indonesia untuk menjadi eksportir avtur utama di kawasan Asia Tenggara.
Dia menilai PT Pertamina (Persero) memiliki kapasitas teknologi yang andal untuk mengeksekusi kebijakan konversi surplus solar menjadi avtur tersebut. Langkah ini didukung oleh tiga fasilitas kilang utama, yaitu:
1. RU (Refinery Unit) V Balikpapan
Pascaprogram pengembangan kilang atau refinery development master plan (RDMP), kilang ini memberikan tambahan kapasitas produksi hingga 5,6 juta kl. Fasilitas ini menjadi motor utama yang menyumbang surplus solar nasional saat ini.
2. RU VI Balongan
Kilang ini sedang menjalani tahapan revitalisasi unit hidrogenasi minyak tanah atau kerosene hydrotreating unit (Kero-HTU) dengan kapasitas 10.000 barel per hari (bph). Usai revitalisasi, unit tersebut diproyeksikan mampu menghasilkan 9.500 bph avtur murni.
3. RU IV Cilacap
Pada Februari 2026, Pertamina telah melakukan peletakan batu pertama (groundbreaking) fasilitas standalone green refinery (SGR) berkapasitas 6.000 bph atau sekitar 300.000 kL per tahun. Fasilitas ini dikhususkan untuk memproduksi avtur nabati atau sustainable aviation fuel (SAF).
Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan surplus solar fosil hingga 4 juta kl. Hal itu terjadi berkat keberhasilan program B50 yang mulai berlaku pada 1 Juli 2026.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa kelebihan stok inilah yang menjadi landasan kuat bagi pemerintah untuk menghentikan total impor solar.
"Dengan peluncuran B50 ini, alhamdulillah kita tidak lagi melakukan impor solar dari negara lain. Artinya, solar dengan campuran B50 sudah dapat kita selesaikan di dalam negeri," kata Bahlil di sela acara Peresmian Peluncuran Mandatori B50 di Rest Area KM 57 Tol Jakarta—Cikampek, Kamis (9/7/2026).
Bahlil menjelaskan optimalisasi kilang baru di Kalimantan Timur, yaitu Kilang Balikpapan (RU V) melalui proyek ekspansi dan modernisasi RDMP, menjadi salah satu penggerak utama lonjakan produksi ini.
Proyek tersebut menghasilkan tambahan 5,6 juta kl, sehingga diperkirakan akan terjadi surplus antara 3 sampai 4 juta kl.
Menyikapi surplus solar yang melimpah tersebut, pemerintah memutuskan untuk mengonversinya menjadi avtur demi mengejar target swasembada bahan bakar penerbangan.
Bahlil menyebutkan bahwa pihaknya bersama Pertamina kini tengah mematangkan peta jalan pembangunan pabrik avtur baru.
"Bahan baku avtur itu hampir sama dengan solar. Sekarang saya dengan Pertamina sedang membuat roadmap. Insyaallah, doakan akhir 2026 ini kita sudah bisa memulai pembangunan pabrik avtur tersebut," pungkas Bahlil.
(smr/wdh)






























