Vaksin tersebut merupakan hasil kolaborasi Universitas Indonesia yang dipimpin oleh Prof. Dra. Beti Ernawati Dewi, Ph.D., sebagai Principal Investigator, Prof. Zhang Linqi dari Tsinghua University, Tiongkok, serta PT Etana Biotechnologies Indonesia. Vaksin memanfaatkan materi genetik (gen preM-E) virus dengue strain asli Indonesia.
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin mengatakan apabila riset tersebut berhasil, Indonesia akan memiliki salah satu vaksin dengan teknologi paling mutakhir yang diproduksi di dalam negeri, bahkan menjadi vaksin mRNA pertama di dunia untuk penyakit demam berdarah.
"Kalau ini berhasil, ini akan menjadi salah satu vaksin baru yang diproduksi di Indonesia dengan teknologi paling mutakhir. Kita harus berterima kasih kepada para peneliti Indonesia yang sudah mampu setara dengan peneliti dunia," kata Budi.
Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie mengatakan kolaborasi riset antara Universitas Indonesia dan Tsinghua University menjadi contoh penting bagaimana kerja sama ilmiah dibangun berdasarkan kebutuhan riset, sebelum kemudian diperkuat melalui nota kesepahaman (MoU).
Sebagai informasi, pemilihan dengue sebagai salah satu prioritas riset didasarkan pada tingginya beban penyakit di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan mencatat sekitar 151 ribu kasus dengue dengan 650 kematian setiap tahun.
Peluncuran prototipe vaksin ini juga menjadi bagian dari implementasi kerja sama strategis Indonesia dan Tiongkok di bidang riset vaksin, genomik, dan bioteknologi kesehatan yang telah dibangun sejak penandatanganan MoU Indonesia–China Joint Research and Development Center on Vaccine and Genomics pada 2022.
(dec)































