“Perubahan konstitusi ini meletakkan fondasi bagi pembentukan badan tersebut,” ujar Magyar kepada para wartawan setelah pemungutan suara usai. “Jajaran pimpinan lembaga ini dapat ditunjuk melalui proses yang transparan pada bulan September mendatang, dan setelah itu mereka bisa langsung bekerja.”
Seluruh langkah taktis ini merupakan bagian dari rencana besar untuk meyakinkan pihak Uni Eropa bahwa Hungaria kini telah aman, sehingga dana miliaran euro yang sempat ditahan akibat kekhawatiran adanya penyelewengan dana oleh Orban dan kroni-kroninya bisa segera dicairkan.
Di sisi lain, Orban yang selalu mencitrakan dirinya sebagai seorang "petarung jalanan", kini justru berada jauh dari medan pertempuran politik. Ia justru berada di Amerika Utara untuk menyaksikan tiga pertandingan terakhir Piala Dunia sepak bola sambil terus mengunggah pernyataan yang menggambarkan demokrasi Hungaria telah berakhir.
Perubahan politik yang begitu cepat setelah kemenangan telak Magyar pada pemilu 12 April bahkan membuat sejumlah pengamat yang selama ini berhati-hati mulai mempertanyakan masa depan Orban, tokoh yang mendominasi politik Hungaria sejak runtuhnya komunisme pada 1989.
"Kalau Anda mengatakan demokrasi telah berakhir di suatu negara, Anda tidak mungkin langsung pergi menonton Piala Dunia sepak bola pada hari yang sama," tulis analis politik Gabor Torok di Facebook. "Itu justru melemahkan pesan yang ingin disampaikan."
Pemungutan suara untuk mengubah konstitusi pada Senin menjadi puncak dari rangkaian aktivitas legislasi yang sangat intens sejak pemerintahan Magyar terbentuk pada Mei. Hasilnya mencopot presiden, membatasi masa jabatan anggota parlemen maksimal tiga periode, serta memensiunkan para hakim tinggi yang selama ini dikenal dekat dengan Orban.
Partai Fidesz pimpinan Orban mengecam langkah tersebut dan menyebut pemecatan para pejabat itu sebagai pelanggaran terhadap norma-norma demokrasi. Namun, Magyar menegaskan bahwa rakyat telah memberinya mandat untuk memberhentikan para pejabat yang diangkat pemerintahan sebelumnya.
Menurutnya, para pejabat tersebut membiarkan berbagai penyalahgunaan kekuasaan dan praktik korupsi yang dilakukan sekutu-sekutu Orban.
Melalui media sosial dan berbagai podcast berbahasa Inggris yang ditujukan kepada publik internasional, para pejabat Fidesz terus menyebut reformasi Magyar sebagai bentuk perebutan kekuasaan yang otoriter.
"Demokrasi Hungaria 1990-2026," tulis Orban di Facebook menjelang pemungutan suara. Para anggota parlemen dari Fidesz memboikot sidang dan berdiri di luar ruang sidang, sebagian besar mengenakan pakaian hitam sebagai simbol berkabung.
Namun, Orban juga tampak mengakui bahwa Hungaria akan segera memiliki presiden baru yang menurutnya "tidak sah". "Presiden baru yang diangkat secara melawan hukum tidak mungkin sah, begitu pula seluruh keputusannya," tulisnya kemudian.
"Mereka sebenarnya tidak benar-benar percaya bahwa supremasi hukum telah berakhir," balas Magyar dalam konferensi pers. "Kalau memang percaya, mereka tentu akan mengajak para pendukungnya melakukan aksi nyata, bukan justru menonton sepak bola."
Minat masyarakat terhadap sidang parlemen meningkat tajam sejak Magyar menjabat. Salah satu penyebabnya adalah gedung parlemen bergaya neo-Gotik di tepi Sungai Danube kembali menjadi tempat lahirnya berbagai undang-undang, setelah selama bertahun-tahun Orban lebih sering memerintah melalui dekret.
Pada tahun-tahun terakhir pemerintahan Orban, siaran sidang parlemen rata-rata hanya ditonton sekitar 5.000 orang secara daring. Sejak pemilu berlangsung, jumlah penonton melonjak hingga mencapai 250.000 orang.
Di sisi lain, Partai Fidesz juga mulai menunjukkan tanda-tanda perpecahan. Ketua fraksi partai, Gergely Gulyas, mengundurkan diri pada pagi hari sebelum pemungutan suara. Ia mengatakan, karena perubahan konstitusi membuat dirinya tidak lagi bisa terpilih kembali, jabatan tersebut sebaiknya diberikan kepada orang lain. Keputusan itu disebut mengejutkan rekan-rekan separtainya.
Orban berjanji tetap memimpin proses pembaruan partai dari luar parlemen. Rencana tersebut kemungkinan akan dijelaskan lebih lanjut dalam sebuah festival tahunan di Transylvania, Rumania, yang rutin ia hadiri setiap tahun.
Namun, sejumlah pihak mulai mempertanyakan apakah Orban masih memiliki pengaruh yang cukup untuk memimpin proses tersebut.
"Yang sebenarnya berakhir hari ini bukan demokrasi Hungaria, melainkan mitos tentang Viktor Orban," kata analis politik Gabor Torok.
(bbn)
































