Hal ini diamini oleh sejumlah data yang menunjukkan bahwa perlambatan ekonomi terjadi pada hampir semua negara. Baru-baru ini, Asian Development Bank (ADB) merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Tenggara menjadi sebesar 4,5% dari sebelumnya sebesar 4,6%.
Tak cuma ASEAN, pertumbuhan ekonomi negara Asia Tenggara berkembang (Developing Southeast Asia) juga direvisi menjadi 4,6% pada 2026 dan dipertahankan sebesar 4,8% pada 2027.
Menurut ADB, Konflik di Timur Tengah telah melemahkan permintaan eksternal, meningkatkan ketidakpastian global, mengganggu rantai pasok, serta mendorong kenaikan biaya input dan harga komoditas.
Hal tersebut menyebabkan aktivitas manufaktur di berbagai negara juga masih berada dalam tekanan akibat permintaan yang melemah, tingginya suku bunga, serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
Bagi dunia usaha, kontraksi PMI dilatarbelakangi oleh penurunan pesanan, dan perusahaan meresponsnya dengan menahan pembelian bahan baku, mengurangi jam operasional, menunda investasi, hingga lebih selektif dalam merekrut tenaga kerja.
Bahkan, di tengah kondisi seperti ini, perusahaan juga berpotensi melakukan efisiensi untuk menjaga margin keuntungannya. Alhasil, pelemahan di sektor manufaktur dapat menjalar ke sektor lain lewat penurunan pendapatan pekerja, investasi, hingga konsumsi rumah tangga.
Keyakinan Konsumen Memudar
Gejala tersebut juga mulai terasa dari sisi konsumen. Indeks keyakinan konsumen (IKK) yang dirlis Bank Indonesia (BI) tercatat turun menjadi 117,8 pada Juni, lebih rendah dibandingkan 120,9 pada Mei, sekaligus menandai level terendah sejak September 2025. Meski masih berada di level optimis 100, tren penurunannya perlu mendapat perhatian sebab mencerminkan bahwa masyarakat semakin berhati-hati dalam memandang kondisi ekonomi.
Gejala ini diperparah dengan terjadinya penurunan pada kedua komponen utama. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini juga turun menjadi 109,2 dari sebelumnya 112,2. Ini menunjukkan bahwa persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini semakin memburuk.
Sementara itu, Indeks Ekspektasi Konsumen juga turun menjadi 126,4 dari 129,7. Penurunan tersebut mencerminkan memburuknya pandangan masyarakat terhadap prospek pendapatan, lapangan kerja, aktivitas usaha, hingga kemampuan membeli barang tahan lama dalam enam bulan mendatang.
Perubahan persepsi tersebut umumnya menjadi sinyal awal sebelum konsumsi benar-benar melemah. Rumah tangga cenderung menahan pembelian barang bernilai besar ketika merasa prospek ekonomi tidak lagi sebaik sebelumnya.
Kehati-hatian konsumen itu telah tercermin pada data penjualan ritel yang juga terkontraksi 4,4% pada Juni secara tahunan. Penurunan tersebut jauh lebih dalam dari kontraksi bulan Mei yang sebesar 3,9%.
Pada Mei 2026, Indeks Penjualan Riil (IPR) tercatat sebesar 223,4, turun dibanding April yang sebesar 226,9, atau berkurang 3,5 poin. Bank Indonesia memperkirakan IPR kembali turun menjadi 221,6 pada Juni, sehingga dalam dua bulan indeks telah menyusut 5,3 poin atau sekitar 2,3% dari posisi April
Yang lebih mengkhawatirkan, pelemahan tak cuma terjadi pada satu kelompok barang, tetapi hampir merata pada berbagai kategori kelompok barang, bahkan yang bersifat kebutuhan dasar. Seperti, makanan dan minuman, pakaian, bahan bakar, alat komunikasi, hingga kebutuhan budaya dan rekreasi.
Kontraksi yang terjadi pada hampir semua kelompok barang itu menunjukkan pelemahan konsumsi tak lagi bersifat musiman, tapi malah mencerminkan adanya perlambatan daya belli masyarakat secara luas.
Padahal, seperti diketahui, bahwa konsumsi rumah tangga selama ini jadi penyimbang lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Dengan melemahnya konsumsi dan daya beli, mesin utama pertumbuhan ekonomi otomatis ikut melambat.
Tekanan Inflasi Menguat
Perlambatan ini juga terjadi saat tekanan harga belum mereda. Inflasi Juni tercatat berada di level 3,38%, relatif tinggi dibandingkan titik tengah sasaran BI. Dalam kondisi normal, pelemahan yang terjadi pada konsumsi biasanya diikuti dengan penurunan tekanan inflasi karena permintaan masyarakat berkurang.
Namun, inflasi yang datang kali ini bersumber dari sisi penawaran. Kenaikan harga energi akibat tensi geopolitik di Timur Tengah, gangguan produksi pangan karena faktor cuaca dan ancaman El Nino, dan pelemahan nilai tukar rupiah yang berkepanjangan, membuat biaya impor jadi naik dan akhirnya membuat harga tetap melambung.
Dengan kata lain, tekanan inflasi yang terjadi saat ini bukan berasal dari konsumsi yang terlalu kuat (demand-pull inflation), melainkan meningkatnya biaya produksi dan distribusi (cost-push inflation).
Seluruh indikator tersebut menyampaikan pesan yang sama. Ekonomi Indonesia belum memasuki fase krisis, tetapi jelas sedang kehilangan momentum. Optimisme konsumen mulai terkikis, aktivitas industri melemah, dan belanja masyarakat tidak lagi sekuat sebelumnya.
Indikator ekonomi pada periode akhir paruh pertama tahun ini menunjukkan pudarnya keyakinan konsumen di tengah ketidakpastian pendapatan, tingginya suku bunga dan melambungnya biaya hidup.
Dengan kondisi saat ini, tantangan terbesar pemerintah dan otoritas moneter ke depan bukan sekadar menjaga stabilitas harga dan nilai tukar, tapi juga memulihkan kepercayaan pelaku usaha serta daya beli masyarakat.
Sebab tanpa konsumsi yang kembali bergairah, akan semakin sulit menjaga pertumbuhan ekonomi tetap berada pada jalur yang diharapkan di tengah ketidakpastian global yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
(dsp/aji)































