Di sektor jasa keuangan, lanjut Sophia, tantangan tersebut tecermin dari masih tingginya anomali transaksi yang terdeteksi berdasarkan data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).
"Kami juga melihat data dari BSSN yang menunjukkan anomali transaksi masih cukup signifikan. Hal ini tentu menjadi perhatian kita bersama secara terintegrasi, kolaboratif, serta didukung oleh tata kelola dan akuntabilitas yang kuat," ujar Sophia.
Ia menambahkan bahwa perkembangan teknologi membuat lanskap risiko berubah jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan organisasi untuk beradaptasi. Oleh karena itu, penerapan governance, risk, and compliance tidak lagi hanya menjadi aspek kepatuhan, tetapi juga menjadi kunci menjaga ketahanan sektor jasa keuangan.
"Saat ini kita menghadapi risiko yang bergerak jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan organisasi atau institusi untuk mengadaptasinya," pungkas dia.
(fik/wep)

































