Logo Bloomberg Technoz

“Bagaimanapun Anda menganalisisnya, atau indikator apa pun yang ingin Anda gunakan, inflasi tahun ini tetap naik,” tegas Waller. “Pada titik ini, saya merasa khawatir dengan laju inflasi inti yang masih tinggi.”

Ia menunjuk pada indikator inflasi pilihan The Fed yang mengecualikan komponen pangan dan energi yang fluktuatif. Indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) inti tercatat menyentuh angka 3,4% dalam basis tahunan hingga Mei lalu. Laju inflasi ini, menurut Waller, sudah mulai merangkak naik sejak Januari—sebelum perang AS-Iran pecah—dan “terus bergerak naik secara stabil.”

Pada bulan lalu, para pembuat kebijakan sepakat secara bulat untuk mempertahankan suku bunga acuan mereka. Walau demikian, risalah pertemuan tersebut menunjukkan adanya beberapa pejabat yang melihat urgensi untuk menaikkan suku bunga. Dalam proyeksi ekonomi terbaru, separuh dari 18 pembuat kebijakan memproyeksikan setidaknya ada kenaikan seperempat poin persentase pada suatu waktu di tahun ini.

Di sisi lain, Gubernur The Fed Kevin Warsh memilih menolak memberikan proyeksi suku bunga dan menghindari komentar terperinci mengenai kondisi ekonomi, meskipun ia dijadwalkan akan tampil memberikan kesaksian di hadapan anggota dewan pekan ini.

Gelombang serangan baru antara AS dan Iran telah mengerek harga energi menjadi lebih tinggi, walaupun harga minyak dunia saat ini masih berada jauh di bawah level puncaknya pada bulan Maret dan April lalu. Berdasarkan survei ekonom oleh Bloomberg, Indeks Harga Konsumen (IHK) dalam data yang dirilis hari Selasa diperkirakan melambat ke angka 3,8% secara tahunan hingga Juni, turun dari posisi 4,2% di bulan Mei.

“Saya akan sangat senang melihat angka inflasi inti yang lebih rendah. Namun, berkaca pada eskalasinya sepanjang paruh pertama tahun ini, saya perlu melihat data yang lebih rendah selama beberapa bulan berturut-turut untuk merasa yakin bahwa inflasi telah bergerak ke arah yang benar,” kata Waller.

Ia menambahkan bahwa ekspektasi terhadap penurunan inflasi tersebut masih masuk akal untuk terjadi. Jika skenario itu terwujud, Waller menyatakan akan mendukung opsi untuk terus mempertahankan suku bunga acuan tetap stabil.

Lebih lanjut, Waller menyoroti pentingnya menghindari pengulangan kesalahan dari guncangan inflasi akibat pandemi pada kurun waktu 2021 dan 2022. Kala itu, Federal Open Market Committee (FOMC) menuai banyak kritik karena dinilai terlalu lama menunda kenaikan suku bunga. Namun, sang gubernur menambahkan bahwa situasi kali ini berbeda dengan periode tersebut; pasar tenaga kerja saat ini tidak menunjukkan tanda-tanda keketatan dan ekspektasi inflasi jangka panjang masih tetap terjaga dengan baik. Meski demikian, kenaikan inflasi inti yang persisten dapat menjadi sinyal bahwa tekanan harga mulai menyebar luas ke seluruh lini perekonomian.

“FOMC harus siap untuk memperketat kebijakan moneter guna mencegah terulangnya episode inflasi tahun 2021 hingga 2022,” pungkasnya.

(bbn)

No more pages