Pelaku pasar juga akan mencermati rilis data inflasi konsumen (CPI) AS dan kesaksian Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di Kongres pekan ini untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan bank sentral AS.
"Jika inflasi konsumen lebih tinggi dari perkiraan, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed sebelum akhir tahun kemungkinan akan menguat dan menjadi sentimen negatif bagi Bitcoin," kata analis IG Australia Tony Sycamore. Sebaliknya, data yang sesuai atau lebih rendah dari perkiraan akan mendukung pernyataan Warsh sebelumnya bahwa tekanan inflasi mulai mereda.
AS dan Iran kembali saling melancarkan serangan hingga Senin, memperburuk perselisihan terkait status Selat Hormuz yang menjadi pusat konflik kedua negara. Ketidakpastian mengenai arus pelayaran melalui Selat Hormuz menghapus harapan normalisasi lalu lintas kapal dalam waktu dekat dan mendorong lonjakan harga minyak terbesar sejak April.
Meski Bitcoin masih berada di bawah tekanan akibat meningkatnya penghindaran risiko (risk aversion), terdapat sinyal positif bagi prospek aset kripto tersebut. Berakhirnya tren arus keluar dana dari ETF Bitcoin menunjukkan membaiknya permintaan terhadap aset digital tersebut. Kembalinya arus dana bersih masuk mengindikasikan investor institusi mulai mengurangi sikap defensif terhadap Bitcoin sehingga risiko tekanan jual berkurang dan kondisi pasar membaik.
Data penyedia ETF menunjukkan ETF Bitcoin di AS mencatat arus dana bersih masuk sebesar US$197 juta atau sekitar Rp3,56 triliun pada pekan yang berakhir 10 Juli. Angka tersebut mengakhiri delapan pekan berturut-turut arus keluar dana dan menjadi aliran dana positif mingguan pertama sejak Mei.
Perkembangan tersebut juga mengakhiri periode aksi jual besar-besaran oleh investor institusi yang sempat memicu arus keluar dana bersih mencapai rekor US$4,5 miliar atau sekitar Rp81,3 triliun sepanjang Juni.
(ell)































