“Itu adalah kerja sama dengan Pertamina yang kemarin sudah kita gagas, kita fasilitasi, dan alhamdulillah sekarang sudah ada kerja sama dengan Pertamina untuk bisa mereka mulai lagi,” kata Laode kepada awak media, di Kantor Kementerian ESDM, Rabu (13/5/2026).
Sekadar informasi, Shell Indonesia terpantau sudah kembali menjual bahan BBM jenis solar, tetapi stok bensin terpantau masih belum disediakan oleh raksasa migas asal Eropa tersebut.
Melalui akun Instagram resminya, Shell Indonesia sempat menyatakan masih berkoordinasi dengan pemerintah untuk mengurus rekomendasi impor BBM periode 2026.
Dengan begitu, produk bensin Shell Super, Shell V-Power, dan Shell V-Power Nitro+ masih belum tersedia di seluruh jaringan SPBU perseroan.
“Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah terkait permohonan rekomendasi impor BBM periode 2026 sesuai dengan tata laksana yang berlaku,” tulis Shell Indonesia melalui Instagram resminya.
Di sisi lain, perseroan menegaskan Shell tak bakal menutup seluruh jaringan SPBU gegara kendala dalam pengadaan dan penyaluran BBM.
“Informasi bahwa Shell akan menutup seluruh SPBU di Indonesia karena kendala dalam pengadaan dan penyaluran produk BBM adalah tidak benar,” ungkap Shell Indonesia.
Sekadar catatan, tahun lalu pemerintah mempersingkat durasi izin impor BBM oleh badan usaha swasta menjadi 6 bulan dari biasanya 1 tahunan.
Dalam durasi yang singkat tersebut, SPBU swasta diberi kuota impor periode 2025 sebanyak 10% lebih banyak dari realisasi tahun lalu.
Dalam perkembangannya, saat realisasi impor telah terpenuhi lebih cepat akibat tingginya permintaan BBM di SPBU swasta, Kementerian ESDM menolak untuk memberikan tambahan rekomendasi kuota impor, sehingga menyebabkan gangguan pasok di hampir seluruh jaringan SPBU swasta.
Sebagai jalan tengah, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengambil kebijakan agar pemenuhan kebutuhan BBM untuk SPBU swasta akan dilakukan oleh Pertamina melalui impor dalam format base fuel, atau BBM dasaran tanpa ada campuran bahan aditif.
Selat Hormuz — yang menghubungkan produsen Teluk Persia ke pasar global — mengalami blokade ganda selama perang Amerika Serikat (AS)-Iran, yang meletus pada akhir Februari, menyebabkan kekacauan di pasar energi.
Citigroup Inc. memproyeksi harga minyak Brent dapat terus turun hingga US$60/barel pada akhir tahun ini karena gangguan di Selat Hormuz mereda, menambah pandangan pesimistis untuk pasar minyak mentah global.
Pasar energi global dengan cepat kembali normal seiring dengan dimulainya kembali aliran melalui Hormuz yang meningkatkan pasokan jangka pendek, menambah barel untuk pengolah setelah mereka mengamankan alternatif.
Hasilnya adalah penurunan harga yang cepat, dengan Brent — patokan global — anjlok 30% pada kuartal kedua dan menghapus semua keuntungan yang terlihat selama konflik.
Kendati begitu, harga minyak mentah kembali naik setelah AS meluncurkan serangan ke wilayah Iran, sebagai balasan atas serangan yang menyasar kapal-kapal komersial di kawasan Selat Hormuz.
Pasar energi global terguncang pekan ini akibat bangkitnya konflik antara Washington dan Teheran, yang mendorong harga kontrak berjangka minyak mentah Brent kembali di atas US$80 per barel.
Lalu lintas kapal melalui selat tersebut nyaris terhenti setelah AS dan Iran saling melancarkan serangan untuk hari kedua, menguji kesepakatan damai yang rapuh, yang muncul setelah serangkaian serangan terhadap kapal di perairan tersebut.
(azr/wdh)





























