Logo Bloomberg Technoz

Bagi rupiah, meredanya tekanan dari ketidakpastian geopolitik belum bisa sepenuhnya menopang laju penguatan lebih lanjut. Tekanan terhadap pasar saham yang dipicu oleh peringatan MSCI, kemudian diperparah setelah S&P Dow Jones Indices memberi sinyal bahwa Indonesia berpotensi kehilangan status sebagai emerging market jika masalah terkait transparansi di pasar saham tak kunjung teratasi. Tekanan ini juga merembet pada volatilitas rupiah. 

Di sisi lain, investor masih terus mencermati arah kebijakan fiskal serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia, yang indikatornya menunjukkan sedikit perlambatan. 

Meski begitu, tak semua pelaku pasar memandang pelemahan aset Indonesia sebagai sinyal untuk menjauh. Sejumlah investor jangka panjang justru melihat koreksi tajam yang terjadi di pasar domestik sebagai peluang akumulasi.

Manajer investasi asal Afrika Selatan yang mengelola aset sekitar US$29 miliar, dilaporkan mulai membangun posisi di Indonesia dengan membeli saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF). 

Hal ini sedikit menunjukkan bahwa di tengah memburuknya sentimen jangka pendek, sebagian investor global masih menilai fundamental sejumlah perusahaan Indonesia masih layak dikoleksi. 

Sementara dari pasar Surat Utang Negara (SUN), adanya penurunan harga minyak dunia ikut meredakan sebagian tekanan di pasar obligasi pemerintah. Turunnya harga minyak sedikit mengurangi kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi impor dan mempersempit risiko pelebaran defisit transaksi berjalan lantaran tingginya nilai impor energi. 

Hal ini terlihat dari mulai meredanya yield tenor 1 tahun yang kemarin sempat bertengger di level 7,4%. Pagi ini pada 08:00 WIB sudah kembali di level 7,06%. 

Meski begitu, ruang penguatan pasar obligasi masih dibatasi oleh tingginya premi risiko yang diminta investor. Terlebih, yield SUN tenor 1 tahun harus berkompetisi dengan yield Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang berada di level 7,6% untuk tenor 12 bulan. 

Namun demikian, peluang penguatan rupiah secara bertahap masih tetap terbuka, asalkan stabilitas pasar saham, dan pasar obligasi terus membaik. Terlebih jika diimbangi dengan perbaikan fundamental ekonomi domestik dan membaiknya kepercayaan serta persepsi konsumen. 

Analisis Teknikal

Analisis Teknikal Rupiah Jumat 10 Juli 2026 (Sumber: Bloomberg)

Akan tetapi, pergerakan secara teknikal hari ini menunjukkan sinyal pelemahan lebih lanjut. Target pelemahan menuju level Rp18.100/US$ yang merupakan support pertama dengan target pelemahan kedua akan tertahan di Rp18.150/US$.

Apabila kembali break kedua support tersebut dengan volume yang besar, maka rupiah berisiko melemah menuju level pesimistis Rp18.200/US$ yang merupakan rekor terlemah sepanjang sejarah.

Namun jika nilai tukar rupiah berhasil menguat, maka resistance yang menarik dicermati ada pada kisaran Rp18.000-17.900/US$.

(riset)

No more pages