Logo Bloomberg Technoz

Di sisi lain Solihin juga tak memungkiri bilamana perlambatan daya beli yang turun ini merupakan bagian dari siklus tahunan. Sebab, jarak antara libur Natal dan Tahun Baru dengan Ramadan dan Lebaran yang relatif berdekatan membuat konsumsi masyarakat cenderung melemah setelah musim hari besar berakhir.

Selain itu, masyarakat juga mulai mengalihkan pengeluaran untuk kebutuhan lain, seperti biaya masuk sekolah anak. Kondisi tersebut membuat konsumen semakin berhati-hati dalam membelanjakan uangnya.

Meski begitu, memasuki semester II-2026, ia memperkirakan sejumlah momentum musiman akan membantu mengangkat penjualan, meski dampaknya tidak sebesar Ramadan dan Lebaran. Momentum tersebut antara lain libur sekolah, musim kembali ke sekolah (back to school), serta peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI.

Solihin menyebut setiap momen akan mendorong penjualan kelompok produk yang berbeda. "Jadi pergeseran jenis produk itu bisa berbeda-beda tergantung daripada musim atau kegiatan yang terjadi di bulan tersebut," jelasnya.

Sekadar catatan, BI dalam surveinya menyebut pada Mei 2026, IPR turun 3,5 poin, menjadi 223,4 dibanding April yang sebesar 226,9. BI juga memperkirakan IPR akan kembali turun jadi 221,6 pada Juni, sehingga dalam dua bulan indeks yang memotret daya beli masyarakat telah menyusut 5,3 poin atau sekitar 2,3% dari posisi April. 

Menariknya, kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau, yang selama ini jadi tulang punggung konsumsi rumah tangga, mulai mengalami kontraksi -4,1% secara tahunan pada Mei, lebih dalam ketimbang April -3,8%. Penjualan kelompok ini juga diperkirakan akan kembali melemah jadi -4,5% pada Juni. 

(ain)

No more pages