Logo Bloomberg Technoz

Dari sisi pasar keuangan, hal tersebut menjadi sentimen positif karena mengurangi kekhawatiran terhadap risiko pelebaran defisit maupun peningkatan utang pemerintah di tengah ketidakpastian global.

"Defisit fiskal yang rendah juga dipengaruhi oleh penerimaan negara yang masih cukup baik," ujar Rizal kepada Bloomberg Technoz, Kamis (9/7/2026).

Kendati demikian, Rizal menilai level defisit APBN juga mencerminkan realisasi belanja pemerintah yang belum sepenuhnya optimal, sehingga belum mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

Jika belanja produktif, terutama belanja modal dan program yang memiliki efek pengganda terhadap ekonomi, masih tertahan, maka dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi juga berpotensi belum maksimal. 

“Artinya, kualitas belanja negara pada semester II-2026 akan menjadi faktor kunci agar APBN tidak hanya sehat secara fiskal, tetapi juga efektif dalam menopang pertumbuhan ekonomi dan menjaga stabilitas rupiah,” kata Rizal.

Dalam kesempatan berbeda, Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menyebut defisit APBN semester I-2026 di bawah 1% memberi makna ekonomi bahwa posisi fiskal pemerintah masih relatif terkendali pada paruh pertama tahun. 

Defisit sebesar Rp196,5 triliun atau 0,76% PDB menunjukkan belanja negara belum menekan pembiayaan secara berlebihan dan masih jauh dari batas defisit 3% PDB. 

Secara teknis, angka ini memberi ruang bagi pemerintah untuk menjalankan belanja semester II-2026, termasuk subsidi energi, perlindungan sosial, dan program prioritas. 

“Akan tetapi, angka semester I tidak boleh dibaca sebagai bukti APBN 2026 sudah aman sampai akhir tahun,” tuturnya. 

Dia berpandangan pola belanja pemerintah biasanya meningkat pada semester II-2026 sedangkan tekanan rupiah, harga minyak, yield, dan potensi shortfall pajak dapat memperbesar kebutuhan pembiayaan. 

“Beberapa laporan juga mencatat defisit Mei 2026 sudah berada di Rp180,4 triliun atau 0,70% PDB, lalu melebar menjadi Rp196,5 triliun atau 0,76% PDB pada Juni, sehingga arah defisit tetap perlu diawasi,” terang dia. 

Sentimen Terhadap Rupiah

Lebih jauh Syafruddin menyebut defisit di bawah 1% dapat menjadi sentimen positif untuk rupiah dan ekonomi, tetapi pengaruhnya terbatas jika tidak didukung indikator lain. 

Dia menilai pasar dapat membaca angka ini sebagai sinyal awal bahwa pemerintah masih menjaga disiplin fiskal, terutama saat rupiah bergerak di sekitar Rp18.077/US$, credit default swap (CDS) 5 tahun berada di sekitar 91,776 bps, dan investor menuntut premi risiko lebih tinggi terhadap aset Indonesia. 

Dia menyebut sentimen positif baru akan kuat jika pemerintah mampu menjelaskan kualitas belanja, rencana pembiayaan semester II-2026, pengendalian subsidi energi, dan strategi menjaga defisit akhir tahun tetap kredibel. 

Syafruddin menerangkan, jika pasar melihat defisit rendah hanya akibat belanja yang tertunda, dampaknya ke rupiah kecil. Jika pasar melihat defisit rendah sebagai hasil disiplin fiskal, penerimaan yang sehat, dan pembiayaan yang terukur, rupiah dapat memperoleh dukungan psikologis. 

“Jadi, angka 0,76% PDB memberi modal komunikasi yang baik, tetapi stabilitas rupiah tetap ditentukan oleh kombinasi fiskal yang kredibel, kebijakan BI yang tegas, harga minyak, arus modal, dan kepercayaan investor,” jelas dia. 

Defisit hingga semester I-2026  disebabkan karena pendapatan negara yang lebih rendah dibandingkan kebutuhan belanja negara yang signifikan meningkat. 

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menuturkan pendapatan negara hingga semester I-2026 sebesar Rp1.459,4 triliun, atau setara 46,3% dari target tahun ini yang sebesar Rp3.153,6 triliun. Realisasi pendapatan negara ini mengalami pertumbuhan sebesar 21,4% year on year (yoy). 

"Kinerja pendapatan dipengaruhi oleh peningkatan aktivitas ekonomi, peningkatan pengawasan dan tata kelola pajak bea dan cukai, serta peningkatan layanan kementerian/lembaga dan BLU," kata Purbaya dalam rapat bersama Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Selasa (7/7/2026).

Sementara itu, realisasi belanja negara mencapai Rp1.656 triliun atau setara 43,1% dari target pagu APBN. Realisasi ini juga naik 17,8% yoy.  

Dengan kinerja APBN tersebut, keseimbangan primer mencatatkan surplus sebesar Rp85,1 triliun. Sementara dari sisi pembiayaan anggaran realisasinya mencapai Rp452 triliun atau sudah 65,6% dari target APBN 2026.

-Dengan asistensi Mis Fransiska Dewi-

(lav)

No more pages