Namun, perbaikan tersebut sepertinya lebih mencerminkan efek basis setelah lonjakan konsumsi musiman pada Ramadan dan Lebaran yang terjadi pada kuartal pertama, bukan adanya perbaikan daya beli masyarakat.
Penjualan Kebutuhan Pokok Melemah
Jika melihat struktur penjualan, pelemahan tak cuma terjadi pada barang sekunder, tapi justru mulai menjalar pada kebutuhan pokok.
Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau, yang selama ini jadi tulang punggung konsumsi rumah tangga, mulai mengalami kontraksi -4,1% secara tahunan pada Mei, lebih dalam ketimbang April -3,8%. Penjualan kelompok ini juga diperkirakan akan kembali melemah jadi -4,5% pada Juni.
Padahal, biasanya kelompok ini memiliki bobot konsumsi terbesar dalam belanja rumah tangga. Pelemahan pada kelompok pangan mengindikasikan bahwa tekanan terhadap daya beli sudah merambah pada konsumsi sehari-hari, bukan cuma pengeluaran yang bersifat diskresioner.
Tekanan pada kelompok barang tahan lama (durable goods) terlihat lebih besar. Penjualan Peralatan Informasi dan Komunikasi masih terkontraksi -18,4% secara tahunan pada Mei, dan diperkirakan akan memburuk menjadi -25,5% pada Juni.
Sementara itu, Subkelompok Sandang juga ikut turun menjadi -12% pada Mei. Sedangkan kelompok Barang Budaya dan Rekreasi masih tumbuh tipis 0,2% pada Mei, lalu diperkirakan berbalik terkontraksi menjadi -8,5% pada Juni.
Kondisi ini menunjukkan masyarakat mulai menunda pembelian elektronik, pakaian, maupun pengeluaran hiburan lantaran semakin meningkatnya kehati-hatian mereka dalam membelanjakan pendapatan.
Hal ini sejalan dengan indikator makro lainnya yang menggambarkan pudarnya keyakinan konsumen domestik. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) terus menurun selama tiga bulan beruntun dari 123 pada April, menjadi 120,9 pada Mei, dan kembali turun menjadi 117,8 pada Juni, menjadi level terendah sejak September 2025.
Penurunan keyakinan tersebut diikuti dengan melemahnya persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini, prospek pendapatan, hingga ketersediaan lapangan kerja.
Tekanan Inflasi
Data Survei Penjualan Eceran juga menunjukkan meningkatnya ekspektasi inflasi. Hal ini terlihat dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) pada Agustus diproyeksikan meningkat jadi 178 dari 175,8 pada proyeksi Juli, naik sekitar 1,25%.
Dalam laporannya, BI menyebut kenaikan tersebut didorong oleh kenaikan harga bahan baku, yang berpotensi diteruskan ke harga jual barang di tingkat konsumen. Sementara itu, untuk November, IEH diperkirakan berada di level 167,5, relatif stabil pada Oktober yang berada di level 167,6.
Kenaikan ekspektasi harga ini terjadi bersamaan dengan melemahnya konsumsi. Sebab umumnya, meningkatnya ekspektasi inflasi sering kali mendorong masyarakat mempercepat belanja sebelum harga naik.
Namun yang terjadi saat ini sebaliknya. Penjualan ritel tetap terkontraksi meski masyarakat memperkirakan harga barang dan kebutuhan pokok akan meningkat. Sikap yang diambil masyarakat ini mengindikasikan bahwa tekanan terhadap daya beli sepertinya lebih dominan daripada dorongan untuk belanja lebih awal.
Keadaan saat ini menggambarkan kondisi di mana kenaikan biaya hidup tak diimbangi dengan pertumbuhan pendapatan riil. Alhasil, konsumen jadi semakin selektif dalam mengalokasikan pengeluaran, memprioritaskan kebutuhan pokok, dan menunda pembelian barang non-esensial, seperti elektronik, pakaian, dan kebutuhan rekreasi.
Hasil Survei Penjualan Eceran kali ini menunjukkan sikap konsumen yang cenderung menahan belanja sebagai respons terhadap kondisi saat ini yang dibayangi oleh ketidakpastian pendapatan, tingginya suku bunga, dan melambungnya biaya hidup.
(dsp/aji)




























