Harga emas turun usai mencetak kenaikan tiga hari berturut-turut. Selama dua hari tersebut, harga terangkat lebih dari 4%.
Jadi, sepertinya pelaku pasar memandang keuntungan yang bisa didapat dari menjual emas sudah lumayan tinggi. Aksi jual demi memperoleh keuntungan membuat harga emas turun.
Selain itu, ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter menjadi beban bagi langkah harga emas. Di Amerika Serikat (AS), bank sentral Federal Reserve dipandang sedang berada di persimpangan jalan.
Di satu sisi, inflasi Negeri Paman Sam yang melonjak membuat kenaikan suku bunga acuan menjadi sulit terhindarkan. Namun di sisi lain, pasar tenaga kerja yang lesu membutuhkan dukungan agar tidak makin lemas.
“Investor belum bisa memastikan ke mana arah kebijakan moneter dalam waktu dekat. Namun risiko kenaikan suku bunga sepertinya masih menghantui pasar,” kata Ole Hansen, Head of Commodity Strategy di Saxo Bank A/S, seperti dikutip dari Bloomberg News.
Mengutip CME FedWatch, saat ini peluang kenaikan suku bunga acuan di Negeri Adidaya sebesar 25 basis poin (bps) ke 3,75-4% dalam rapat The Fed 29 Juli adalah 25,7%. Lebih rendah ketimbang posisi pekan lalu yakni 29,9%.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas jadi kurang menguntungkan saat suku bunga tinggi.
“Selama pasar masih melihat ada kemungkinan suku bunga acuan naik, maka potensi kenaikan harga emas menjadi terbatas. Rasanya pasar masih akan berkonsolidasi,” tambah Hansen.
(aji)































