“Ditambah dengan bantalan eksternal yang melemah, di mana transaksi berjalan mencatat defisit US$ 4 miliar pada kuartal I-2026 dan cadangan devisa turun selama lima bulan beruntun,” lanjut catatan Mirae Asset.
Ke depan, tambah riset Mirae Asset, rupiah bergantung pada pemulihan permintaan global, harga komoditas, dan masuknya Devisa Hasil Ekspor (DHE). Jika belum membaik, maka tekanan terhadap rupiah kemungkinan bakal berlanjut.
Wee Khoon Choong, Strategist BNY, menilai rupiah masih menjadi salah satu mata uang paling rentan. Berdasarkan catatannya, seperti dikutip dari Bloomberg News, Wee melihat rupiah terbeban akibat arus modal keluar (outflow) yang persisten, tingginya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah jangka panjang, serta pelemahan rupiah di pasar forwards.
Akan tetapi, Citigroup memperkirakan tekanan terhadap rupiah mungkin akan mereda pada kuartal III-2026. Penyebabnya adalah perbaikan fundamental rupiah, dalam hal ini transaksi berjalan.
Citi memperkirakan defisit transaksi berjalan Indonesia pada kuartal III-2026 akan menyempit ke sekitar 1% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Kemudian akan lebih rendah lagi menjadi di bawah 1% PDB pada kuartal berikutnya.
“Penyebabnya adalah penurunan harga minyak, kenaikan produksi pertambangan, dan moderasi impor,” sebut Helmi Arman, Ekonom Citi, dalam catatannya, sebagaimana dinukil dari Bloomberg News.
Citi pun memperkirakan Bank indonesia (BI) sudah selesai dalam menaikkan suku bunga acuan. Citi juga menilai pemerintah akan melakukan penyesuaian terhadap program-program unggulan, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan realisasi anggaran sekitar Rp 200 triliun sampai akhir tahun dari pagu Rp 335 triliun.
“Indonesia juga mungkin akan menurunkan jumlah penerbitan surat utang tahun ini, dengan lebih banyak memanfaatkan Saldo Anggaran Lebih (SAL) untuk menjaga defisit anggaran di bawah 3% PDB,” demikian Helmi.
- Dengan asistensi M Julian Fadli -
(aji)





























