Hal tersebut dipengaruhi oleh aktivitas Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby Ekuatorial yang masih aktif di beberapa kawasan Indonesia. Kedua fenomena atmosfer tersebut mampu mendukung pembentukan awan hujan di sejumlah daerah.
Selain itu, kombinasi Madden-Julian Oscillation (MJO) dan Gelombang Kelvin juga diperkirakan masih memengaruhi wilayah Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Riau.
Keberadaan sirkulasi siklonik di Samudra Hindia sebelah barat Sumatra serta Samudra Pasifik di utara Papua juga turut meningkatkan potensi terbentuknya hujan.
Sejumlah Daerah Masih Berpotensi Diguyur Hujan
BMKG mencatat kondisi atmosfer lokal di beberapa wilayah masih cukup labil sehingga mendukung pertumbuhan awan konvektif penyebab hujan.
Wilayah yang masih berpotensi mengalami hujan antara lain Sumatra Utara, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua.
Karena itu, masyarakat di wilayah tersebut tetap diimbau mewaspadai perubahan cuaca meski secara kalender sudah memasuki musim kemarau.
Puncak Kemarau Diprediksi Terjadi pada Agustus
BMKG memperkirakan puncak musim kemarau secara nasional akan terjadi pada Agustus 2026.
Pada periode tersebut, sekitar 369 Zona Musim atau hampir 49 persen wilayah Indonesia diperkirakan berada pada puncak musim kemarau. Setelah itu, puncak kemarau masih akan berlanjut di beberapa wilayah hingga September 2026, mencakup sekitar 169 Zona Musim atau lebih dari seperempat wilayah Indonesia.
Dengan masih aktifnya berbagai fenomena atmosfer, masyarakat diimbau tidak menganggap musim kemarau identik dengan cuaca panas tanpa hujan. Potensi hujan lokal masih dapat terjadi di sejumlah daerah sehingga penting untuk terus memantau informasi prakiraan cuaca terbaru dari BMKG sebelum beraktivitas.
(seo)






























