Mengutip CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga acuan di Negeri Paman Sam dalam rapat The Fed 29 Juli adalah 21,9%. Lebih rendah ketimbang posisi sepekan lalu yakni 29,9%.
Emas adalah aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Memegang emas jadi kurang menguntungkan saat suku bunga tinggi.
“Harga energi yang turun dan pertumbuhan lapangan kerja yang melambat mengindikasikan tekanan inflasi sepertinya akan mereda dalam bulan-bulan ke depan. Kami memperkirakan harga emas akan reli menuju resisten US$ 4.280/troy ons,” tegas Bart Melek, Global Head of Commodity Strategy di TD Securities, seperti dikutip dari Bloomberg News.
Analisis Teknikal
Lalu bagaimana prediksi gerak harga emas untuk pekan ini? Apakah bisa naik lagi?
Secara teknikal dengan perspektif mingguan (weekly time frame), emas masih belum bisa beranjak dari zona bearish. Terlihat dari Relative Strength Index (RSI) 14 hari yang sebesar 42. RSI di bawah 50 menandakan suatu aset sedang dalam posisi bearish.
Sedangkan indikator Stochastic RSI 14 hari berada di 20. Menyentuh ambang batas jenuh jual (oversold).
Untuk perdagangan minggu ini, harga emas masih berpeluang naik. Uji resisten terdekat ada di US$ 4.168/troy ons yang merupakan Moving Average (MA) 5.
Resisten lanjutan ada di US$ 4.199-4.356/troy ons. Target paling optimistis adalah US$ 4.523/troy ons.
Namun apabila harga emas malah turun, maka waspadai pivot point US$ 4.105/troy ons. Jika tertembus, maka harga emas bisa berpangkas ke level US$ 4.059-3.853/troy ons.
Target paing pesimistis rasanya ada di US$ 3.763/troy ons.
(aji)






























