Logo Bloomberg Technoz

Harapan The Fed Lebih Dovish Angkat Rupiah dan Mata Uang Asia

Tim Riset Bloomberg Technoz
03 July 2026 09:11

Karyawan menghitung uang rupiah di salah satu tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan menghitung uang rupiah di salah satu tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupiah membuka sesi perdagangan hari terakhir pekan ini (3/7/2026) dengan penguatan 0,23% Rp17.953/US$, di tengah menyusutnya indeks dolar Amerika Serikat (AS) terhadap enam mata uang utama ke 100,82. 

Tak lama berselang, rupiah kembali mendapat sedikit tenaga dengan menguat 0,25% ke posisi Rp17.949/US$ pada 09.10 WIB. 

Pelemahan indeks dolar AS dipicu oleh data data pasar tenaga kerja As menunjukkan ekonomi AS mulai kehilangan momentum. Jumlah nonfarm payrolls pada Juni hanya bertambah 57.000, jauh lebih rendah dibandingkan tren beberapa bulan sebelumnya. 


Kondisi tersebut diprediksi akan memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertahankan sikap yang lebih lunak untuk menentukan arah suku bunga. Pelaku pasar saat ini sepertinya mulai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan tahun ini.

Hal ini membawa ruang penguatan bagi sebagian mata uang Asia. Ringgit Malaysia menguat paling tajam, disusul baht Thailand, peso Filipina, dolar Singapura, yuan China, dan yuan offhore. Sebaliknya, won Korea Selatan, yen Jepang, dolar Taiwan masih sedikit tertahan oleh sentimen domestik. 

Pergerakan mata uang Asia, tertopang data ketenagakerjaan AS yang melemah. (Bloomberg)