Kontrak berjangka minyak Brent diperdagangkan di kisaran US$72 per barel .
Produksi OPEC pada Juni masih 7,3 juta barel per hari, atau sekitar 28% lebih rendah dibandingkan Februari setelah disesuaikan dengan keluarnya Uni Emirat Arab (UEA) dari OPEC.
UEA keluar dari OPEC pada Mei, sehingga memiliki keleluasaan untuk meningkatkan produksi setelah kondisi di Selat Hormuz sepenuhnya stabil. Sementara itu, Irak juga sempat mengancam akan keluar dari organisasi jika tidak memperoleh kuota produksi yang lebih besar.
OPEC+ Bahas Kuota Produksi
Negara-negara utama dalam aliansi OPEC+, termasuk Rusia, dijadwalkan menggelar konferensi video bulanan pada Minggu untuk membahas batas produksi minyak pada bulan berikutnya.
Subkelompok yang terdiri dari tujuh negara tersebut sebelumnya telah mengumumkan serangkaian kenaikan produksi dalam jumlah kecil selama masa perang sebagai bagian dari proses pemulihan produksi yang sempat dipangkas beberapa tahun lalu. Dua delegasi mengatakan pekan ini mereka memperkirakan kuota produksi kembali dinaikkan sebesar 188.000 barel per hari pada Agustus, yang menjadi tahap kedua terakhir dari proses tersebut.
Survei Bloomberg menunjukkan Kuwait mencatat kenaikan produksi terbesar di antara 11 anggota OPEC pada Juni. Produksi negara itu naik 870.000 barel per hari menjadi 1,36 juta barel per hari. Produksi Kuwait sempat anjlok sekitar 80% akibat konflik dan hingga kini masih berada jauh di bawah tingkat normal.
Arab Saudi menjadi penyumbang kenaikan terbesar berikutnya dengan tambahan 550.000 barel per hari menjadi rata-rata 7,2 juta barel per hari.
Sementara itu, Iran meningkatkan produksi sebesar 510.000 barel per hari menjadi 2,85 juta barel per hari. Namun, negara tersebut masih menghadapi kesulitan mencari pembeli sehingga menumpuk persediaan minyak di kapal-kapal tanker yang berlabuh di laut.
Di luar OPEC, Rusia juga meningkatkan ekspor minyak mentah ke rekor tertinggi setelah serangan Ukraina terhadap sejumlah kilang minyaknya. Kondisi tersebut diduga mendorong Rusia mengekspor minyak yang tidak dapat diolah di dalam negeri.
Survei produksi Bloomberg disusun berdasarkan data pelacakan kapal tanker, informasi dari para pejabat, serta estimasi dari Rapidan Energy Group, FGE NexantECA, Kpler Ltd., dan Rystad Energy AS.
(bbn)






























