Logo Bloomberg Technoz

Kondisi tersebut memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertahankan sikap yang lebih lunak untuk menentukan arah suku bunga. Pelaku pasar saat ini sepertinya mulai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan tahun ini.

Akan tetapi, sentimen ini belum mampu mendorong penguatan mata uang di pasar negara berkembang secara menyeluruh. Sebagian investor cenderung berhati-hati di tengah aksi jual saham-saham teknologi global, seperti yang terjadi di Korea Selatan dan membuat kinerja won melemah. 

Di sisi lain, faktor sentimen domestik juga ikut menjadi pemberat bagi penguatan sebagian mata uang di kawasan, seperti yang terjadi pada rupiah yang tetap menghadapi tekanan meski peluang pengetatan moneter lanjutan oleh The Fed mulai mengecil. 

Di sisi domestik, pelemahan rupiah masih dibayangi sentimen fundamental ekonomi yang belum kondusif. Defisit neraca dagang, aktivitas manufaktur yang terkontraksi, hingga menyusutnya cadangan devisa menjadi kombinasi faktor yang akan membuat ruang apresiasi rupiah masih terbatas. Dengan begitu, pergerakan rupiah berpotensi tertahan di kisaran Rp17.990-Rp18.050/US$ dalam jangka pendek. 

(riset)

No more pages