Logo Bloomberg Technoz

Kondisi ini sejalan dengan aktivitas manufaktur yang kembali masuk zona ekspansi 50 pada Mei lalu, setelah sempat turun ke 49,1 pada April. 

Dengan nilai tukar rupiah yang relatif lebih stabil, dan volatilitas harga minyak dunia yang telah mereda, PMI Manufaktur Indonesia Juni diperkirakan masih tetap berada di zona ekspansi 50 hingga 50,2. 

Di sisi lain, ekonom dan analis juga memperkirakan neraca perdagangan mengalami perbaikan menjadi US$1,01 miliar pada Mei, naik dari posisi US$89,1 juta. 

Jika angka surplus ini benar-benar tercapai, menunjukkan bahwa sektor eksternal RI masih mampu menghasilkan devisa di tengah perlambatan pertumbuhan ekspor. 

Meski begitu, tantangan bagi ekonomi RI masih besar, dan khususnya berada pada sisi permintaan domestik. Beberapa indikator menunjukkan konsumsi rumah tangga belum sepenuhnya pulih. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) memang masih berada di zona optimis, tapi telah termoderasi dalam beberapa bulan terakhir. 

Untuk itu, stabilitas makroekonomi jadi hal yang penting. Jika tekanan terhadap rupiah mereda, inflasi terkendali, dan ada ekspektasi siklus pengetatan moneter Bank Indonesia telah mendekati akhir, berpotensi memberikan ruang bagi dunia usaha untuk kembali berekspansi. Dengan begitu, permintaan domestik bisa berpeluang jadi mesin pertumbuhan lagi. 

Hari ini (1/7/2026), pelaku pasar akan mencermati data ekspor impor yang akan dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Perhatian pelaku pasar kemungkinan tak cuma tertuju pada besarnya angka surplus perdagangan, tapi juga pada kualitas pertumbuhan yang akan tercermin di balik angka tersebut. 

(dsp)

No more pages