Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Dibayangi Perlambatan Ekspor, Pasar Cermati Neraca Dagang

Tim Riset Bloomberg Technoz
01 July 2026 08:07

Karyawan menunjukkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan menunjukkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang, Jakarta, Selasa (12/5/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Mengawali Juli, rupiah di pasar offshore menunjukkan pelemahan. Pada pembukaan perdagangan Rabu (1/7/2026), rupiah melemah 0,02% ke posisi Rp17.960/US$, kemudian tak berselang lama kembali susut 0,13% ke Rp17.981/US$. 

Sejatinya, nilai kontrak rupiah di pasar Non-Delivarable Forwards (NDF) melanjutkan penurunan yang telah terjadi sejak awal pekan ini, tertekan sentimen penguatan dolar Amerika Serikat (AS). 

Indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama tercatat bertahan di level 101,24. Kuatnya dolar AS membuat sebagian besar mata uang Asia berada di zona merah. 


Di pasar yang sudah buka, pada 07:20 WIB, baht Thailand melemah paling tajam 0,23%, disusul won Korea Selatan, yen Jepang, dolar Singapura dan yuan offshore.

Sebaliknya, hanya ringgit Malaysia yang tercatat menguat terbatas pagi ini. 

Mata uang Asia, Rabu (1/6/2026) pagi. (Bloomberg)