Developer Software Jadi Pekerjaan Paling Bertahan di Era AI
Merinda Faradianti
25 June 2026 14:45

Bloomberg Technoz, Jakarta - Kecerdasan buatan (AI) selama beberapa tahun terakhir kerap disebut jadi ancaman bagi profesi software engineer. Namun, data terbaru justru menunjukkan pekerjaan di bidang teknik dan pengembangan perangkat lunak atau developer software jadi yang paling tahan terhadap gelombang otomatisasi AI.
Laporan terbaru perusahaan modal ventura SignalFire, menemukan engineer kini mencakup 55% dari seluruh perekrutan baru di perusahaan teknologi besar pada 2025. Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan 2019 yang berada di level 46%.
Data itu mencakup perusahaan-perusahaan raksasa teknologi seperti Alphabet, Meta, Apple, Amazon, Microsoft, Netflix, Nvidia, Tesla, Uber, Airbnb, Block, dan Stripe, dikutip dari laporan TechCrunch, Kamis (25/6/2026).
Baca Juga: Profesi yang Justru Paling Diminati di Era AI, Kebal Ancaman PHK?
Temuan tersebut bertolak belakang dengan narasi yang berkembang sejak kemunculan generative AI, di mana banyak pihak memperkirakan AI akan mengurangi kebutuhan perusahaan terhadap programmer dan engineer.
Kepala Riset SignalFire, Asher Bantock mengatakan, alasan yang paling sering digunakan perusahaan saat melakukan PHK adalah peningkatan kemampuan AI, khususnya dalam penulisan kode atau coding. Namun, kondisi di lapangan menunjukkan gambaran yang berbeda.
“Alasan yang diberikan untuk banyak PHK secara konsisten adalah AI, dan secara khusus mereka mengatakan AI terkait dengan penulisan kode. Mereka mengatakan satu engineer bisa melakukan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan banyak engineer. Apa yang kami lihat di lapangan sedikit tidak konsisten dengan hal itu,” kata Bantock.
Menurut laporan tersebut, perekrutan tenaga kerja teknologi secara keseluruhan memang mengalami penurunan. Dibandingkan 2019, total perekrutan di perusahaan teknologi besar turun 25%. Namun, perekrutan engineer hanya turun 11%, menjadikannya salah satu fungsi pekerjaan yang paling tangguh di tengah perlambatan industri teknologi.
Telebih, pada startup tahap awal, kebutuhan terhadap engineer justru meningkat. Data SignalFire menunjukkan startup merekrut 7% lebih banyak engineer pada 2025 dibandingkan 2019. Bantock menilai, apabila AI benar-benar menggantikan tenaga engineering, maka posisi tersebut seharusnya menjadi yang pertama mengalami penurunan perekrutan.
“Jika AI benar-benar menggantikan talenta engineering, maka perekrutan engineer akan menjadi yang pertama turun di tengah kontraksi pasar tenaga kerja teknologi saat ini,” ujarnya.
Ia menambahkan, peningkatan produktivitas akibat AI justru menciptakan lebih banyak pekerjaan yang perlu dikerjakan oleh engineer. “Mereka tiba-tiba menjadi jauh lebih produktif, dan ada pekerjaan yang seolah tidak ada habisnya untuk mereka lakukan,” kata Bantock.
Bulan Mei 2026 menjadi salah satu waktu dengan jumlah PHK teknologi tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, dan AI merupakan alasan yang paling sering disebut perusahaan. Di sisi lain, sejumlah pemimpin industri teknologi juga menilai AI belum menggantikan peran engineer.
CEO Nvidia, Jensen Huang, juga menolak anggapan bahwa AI akan menghapus profesi tersebut. “Seseorang mengatakan bahwa AI akan menghancurkan semua pekerjaan software engineer,” kata Huang dalam sebuah wawancara di Stanford Graduate School of Business.
Menurutnya, kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. Setelah seluruh engineer Nvidia menggunakan AI agent dalam pekerjaan sehari-hari, mereka menjadi semakin sibuk.
Huang menjelaskan, meskipun AI kini mampu menulis kode dengan sangat cepat, teknologi tersebut justru mendorong engineer untuk terus menghasilkan ide dan inovasi baru.
“Software engineer lebih sibuk dari sebelumnya,” ujar Huang.
































