Sebelumnya, kedatangan Pezeshkian di Pangkalan Udara Noor Khan Islamabad disambut langsung oleh delegasi pejabat tinggi Pakistan, termasuk Presiden Asif Ali Zardari dan PM Sharif. Kunjungan ini menandai lawatan resmi kedua Pezeshkian ke Islamabad sejak menjabat sebagai presiden. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, juga tampak hadir dalam rombongan delegasi tersebut.
Sepanjang konflik yang berlangsung hampir empat bulan itu, Pakistan tercatat aktif menjamu para pejabat Iran. Negara ini bahkan menjadi tuan rumah perundingan damai di Islamabad pada bulan April lalu, yang kala itu turut dihadiri oleh delegasi AS di bawah pimpinan Wakil Presiden JD Vance.
Antisipasi pengamanan ketat pun langsung diberlakukan oleh otoritas Islamabad dengan memblokade sebagian besar wilayah kota menjelang kedatangan Pezeshkian. Jalur-jalur yang menuju ke kompleks perkantoran utama pemerintah pusat, atau yang dikenal sebagai Zona Merah, ditutup total demi alasan keamanan. Pemerintah juga memberlakukan kebijakan bekerja dari rumah bagi sebagian besar kementerian dan lembaga yang berkantor di area steril tersebut.
Hubungan bilateral antara Pakistan dan Iran sendiri sebenarnya telah terjalin lama. Kedua negara berbagi garis perbatasan sepanjang kurang lebih 900 kilometer. Meski kerja sama ekonomi mereka tergolong fluktuatif dan sesekali diwarnai ketegangan akibat aktivitas kelompok milisi di perbatasan bersama, kedua negara tetap menjaga komitmen kemitraan mereka.
Sektor energi pun sejak lama menjadi pilar krusial dalam hubungan kedua negara. Salah satunya adalah proyek pipa gas Iran-Pakistan yang sempat tertunda bertahun-tahun, di mana hambatan proyek raksasa tersebut sebagian besar dipicu oleh kekhawatiran Pakistan yang enggan melanggar sanksi ekonomi yang dijatuhkan AS terhadap Iran.
(bbn)





























