Sebuah Laporan Sebut Adopsi AI di Asia Tenggara Tertahan Biaya
Merinda Faradianti
18 June 2026 11:25

Bloomberg Technoz, Jakarta - Di tengah tingginya adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kalangan dunia usaha kawasan Asia Tenggara, hal tersebut tak beriringan dengan tingkat kesiapan dan komitmen investasi antarnegara.
Temuan tersebut diungkap laporan perdana BT Insights, dikutip Kamis (18/6/2026). Dalam laporan tersebut, The Business Times memetakan kesiapan transformasi AI perusahaan-perusahaan di Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam.
Laporan BT Insights menyebutkan, secara keseluruhan perusahaan di kawasan terbagi ke dalam tiga kelompok utama. Di mana, sebanyak 45% responden masuk kategori AI First Movers, yakni perusahaan dengan tingkat tekanan transformasi dan adopsi AI yang sama-sama tinggi.
Sebanyak 42% lainnya tergolong Pragmatic Optimisers, yaitu perusahaan yang mengadopsi AI secara lebih selektif dengan fokus pada efisiensi dan implementasi yang terbukti memberikan hasil nyata.
Sementara itu, 13% responden masuk kategori Cautious Traditionalists, yang masih berhati-hati dalam mengadopsi AI karena mempertimbangkan risiko biaya, gangguan operasional, serta ketidakpastian manfaat investasi.
Laporan itu menjelaskan, laju transformasi AI di Asia Tenggara berjalan dengan kecepatan yang berbeda-beda. Indonesia tercatat sebagai negara dengan proporsi AI First Movers tertinggi, mencapai 62% dari total responden. Angka ini melampaui Thailand sebesar 55%, Filipina 47%, Malaysia 46%, Singapura 36%, dan Vietnam 28%.
Sebaliknya, Vietnam memiliki porsi perusahaan tradisional terbesar dengan 51% responden masih masuk kategori Cautious Traditionalists. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan kesiapan digital yang cukup lebar di antara negara-negara ASEAN.
Tingkat tekanan untuk bertransformasi juga terlihat tinggi di Indonesia. Sebanyak 70% perusahaan mengaku menghadapi tekanan moderat hingga kuat untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi baru seperti AI, otomatisasi, dan tren keberlanjutan.
Persentase tersebut menjadi yang tertinggi di kawasan, diikuti Filipina dan Singapura yang masing-masing mencapai 69%, Thailand 61%, Malaysia 49%, dan Vietnam 39%.
Meski adopsi AI terus meningkat, laporan mengungkap bahwa mayoritas perusahaan Asia Tenggara masih berfokus membangun fondasi teknologi sebelum melakukan implementasi dalam skala besar.
Sebanyak 51% responden menyatakan investasi AI pada 2026 akan difokuskan pada pembangunan infrastruktur dan platform data. Prioritas berikutnya adalah pengelolaan risiko dan kepatuhan sebesar 42%, serta analitik pelanggan dan personalisasi layanan sebesar 40%.
Di Indonesia sendiri, pembangunan infrastruktur dan platform data menjadi fokus investasi terbesar dengan porsi 54%. Selain itu, perusahaan juga mulai mengalokasikan investasi untuk riset dan pengembangan produk, otomatisasi proses bisnis, serta optimalisasi rantai pasok yang masing-masing menunjukkan porsi signifikan.
Tingginya Biaya Jadi Hambatan Utama
Di balik tingginya minat terhadap AI, biaya implementasi masih menjadi tantangan terbesar yang dihadapi perusahaan di Asia Tenggara. Sebanyak 58% perusahaan di Indonesia menyebut tingginya biaya perangkat AI, infrastruktur, dan implementasi sebagai hambatan utama dalam adopsi teknologi tersebut.
Hambatan lain yang dikeluhkan perusahaan Indonesia adalah kesulitan mengintegrasikan AI dengan sistem lama atau legacy systems yang mencapai 42%, keterbatasan kapabilitas internal untuk memperluas implementasi AI sebesar 38%, serta kualitas data yang belum memadai sebesar 33%.
Selain tantangan biaya, survei menunjukkan lebih dari separuh perusahaan di kawasan memperkirakan AI generatif (GenAI) akan memberikan dampak besar hingga sangat besar terhadap fungsi operasional dan manufaktur pada akhir 2026.
Di Indonesia, ekspektasi terhadap disrupsi tersebut termasuk yang tertinggi di kawasan. AI dipandang tidak lagi sekadar alat untuk meningkatkan produktivitas, tetapi mulai dianggap sebagai kekuatan struktural yang akan mengubah cara kerja organisasi secara menyeluruh.






























