Langkah pemerintah ini, menurut Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian, berpotensi membawa rupiah melanjutkan penguatan menuju kisaran Rp17.500/US$ pada pekan depan.
"Pasar mulai melihat bahwa otoritas ekonomi Indonesia bersedia mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan memulihkan kepercayaan investor," kata Fakhrul.
Sementara itu, perhatian pelaku pasar tertuju pada kebijakan suku bunga acuan BI Rate yang akan kembali diputuskan pekan ini. Konsensus ekonom yang dihimpun Bloomberg memperkirakan BI akan kembali mengerek BI Rate 25 bps lagi ke 5,75% demi menjaga stabilitas rupiah lebih berkelanjutan.
Mata Uang Asia
Penguatan rupiah sore ini sejalan dengan pergerakan mata uang Asia yang kompak menguat. Peso Filipina masih memimpin penguatan 1,44%, disusul rupiah 0,94%, dan rupee India 0,52%.
Penguatan tajam peso Filipina dipicu oleh kesepakatan sementara antara AS dan Iran untuk menghentikan perang. Pergerakan peso juga bersamaan dengan harga saham Filipina yang melonjak tinggi dalam lebih dari enam tahun.
Menurut analis Barclays, Brian Tan, kesepakatan sementara tersebut memperkuat posisi kelompok yang mendukung pelonggaran kebijakan moneter menjelang rapat bank sentral kawasan pada 19 Juni mendatang. Seperti Bank sentral Taiwan, Bank Indonesia, dan Bangko Sentral ng Pilipinas.
Namun, Barclays menilai, Bank of Korea, Bank sentral Taiwan dan Bank Negara Malaysia kemungkinan tetap cenderung menaikkan suku bunga acuan tahun ini. "Bahkan jika konflik Timur Tengah mengalami deeskalasi yang lebih signifikan," sebut Tan, seperti dikutip dari Bloomberg News.
Sementara, Reserve Bank of India dan Bank of Thailand diperkirakan mempertahankan suku bunga hingga akhir tahun karena respons kebijakan mereka realtif tidak terlalu sensitif terhadap pergerakan nilai tukar maupun guncangan inflasi yang dipicu faktor gangguan pasokan.
(dsp/aji)



























