Namun, sebagian ekonom masih memperkirakan BI akan menahan BI Rate di 5,5%, seperti Fikri C. Permana dari KB Valbury Sekuritas, Josua Pardede dari Bank Permata, Euben Paracuelles dari Nomura Singapore, Aldian Taloputra dari Standard Chartered Bank, dan Miguel Chanco dari Pantheon Macroeconomics.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Paredede, menilai skenario BI menahan suku bunga pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) berikutnya masih menjadi pilihan utama dengan probabilitas sekitar 80-90%. Menurutnya, peluang kenaikan lanjutan sebesar 25 bps masih terbuka, meski relatif kecil, yakni sekitar 10-20%.
Dia menyebut, kenaikan tersebut berpotensi terjadi apabila tekanan eksternal kembali meningkatn terutama jika rupiah melemah menembus kisaran Rp18.100-Rp18.200/US$, harga minyak dunia kembali melonjak, imbal hasil Treasury AS mengalami kenaikan signifikan, atau terjadi arus keluar dana asing dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan saham domestik.
Dalam kondisi tersebut, BI kemungkinan akan mempertimbangkan langkah pengetatan tambahan guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan ekspektasi inflasi.
Josua menilai, BI Rate sebesar 5,5% saat ini sudah berada pada level yang memadai untuk menjaga stabilitas pasar keuangan. Menurutnya, ruang kenaikan memang masih tersedia apabila diperlukan.
Namun, dia mengingatkan bahwa pengetatan kebijakan moneter yang terlalu agresif dapat menimbulkan konsekuensi terhadap pertumbuhan ekonomi. Sebab, kenaikan suku bunga akan mendorong biaya dana perbankan lebih tinggi, menghambat penurunan bunga kredit, menekan konsumsi rumah tangga, hingga membuat sektor industri menunda keputusan investasi, serta meningkatnya biaya pembiayaan (cost of fund) pemerintah.
“Dalam kondisi rupiah mulai menguat, BI sebaiknya tidak terburu-buru menaikkan suku bunga lagi hanya untuk mengejar penguatan jangka pendek,” katanya.
Kondisi Rupiah
Jika melihat kondisi hari ini, berdasarkan data pada Senin (15/6/2026) per 11:10 WIB, rupiah cenderung stabil dan menguat 1,02% ke posisi Rp17.687/US$. Penguatan rupiah juga mendapat dukungan dari sisi eksternal dengan harga minyak mentah kembali turun 4,71% ke US$83,22 per barel.
Sementara itu, di pasar Surat Utang Negara (SUN), imbal hasil pada sebagian besar tenor tercatat turun yang menandakan adanya akumulasi beli dari investor. Terutama pada tenor pendek, menengah dan tenor acuan.
Mengacu data Bloomberg pada 11:11 WIB, tenor 1 tahun kembali mencatat penurunan imbal hasil 6,9 bps menjadi 7,15%, tenor 3 tahun bahkan turun paling tajam 30,6 bps ke 7,13%, lalu tenor 5 tahun turun 21,6 bps ke 7,04%.
Begitu juga dengan tenor acuan kembali turun 2,8 bps menjadi 7,41%, dan tenor 11 tahun tercatat turun 12,3 bps jadi 7,4%.
Masuknya arus modal asing ke pasar domestik sejalan dengan kondisi pasar keuangan regional yang mencatat kinerja kuat setelah optimisme terhadap potensi kesepakatan antara AS dan Iran membuat harga minyak kembali jinak. Penurunan harga minyak tersebut meningkatkan selera risiko (risk appettite) di pasar keuangan Asia.
Sebagai catatan, mata uang Asia hari ini kompak menguat. Peso Filipina menguat paling signifikan 1,22%, disusul rupiah 1,03%, lalu rupee India 0,53%, dolar Taiwan 0,35%, won Korea Selatan 0,32%, ringgit Malaysia 0,29%, baht Thailand 0,27%, dan dolar Singapura 0,18%.
Sementara, yen Jepang dan yuan offshore menguat terbatas masing-masing 0,09%, disusul yuan China 0,07%.
(dsp/aji)




























