Prospek meredanya konflik di Timur Tengah membuat investor mencermati kembali pasokan energi global. Harga minyak dunia pun mulai turun hingga berada di bawah US$90 per barel pada akhir pekan lalu.
"Koreksi harga minyak dunia akan menjadi faktor positif bagi domestik karena diharapkan dapat mengurangi tekanan terhadap defisit APBN," lanjut riset tersebut.
Selain itu, pasar juga mencermati potensi efisiensi anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta penurunan target pembangunan Koperasi Desa Merah Putih sebesar 50%.
Tak hanya itu, investor akan menantikan hasil Global Market Accessibility Review MSCI dan rebalancing indeks FTSE pada 19 Juni. Sementara itu, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 18 Juni diperkirakan akan menghasilkan kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%.
Di sisi lain, Analis Teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menilai ruang penguatan IHSG masih terbuka meski investor perlu mewaspadai potensi koreksi jangka pendek.
"Kami memperkirakan posisi IHSG sedang berada pada bagian dari wave [iv] dari wave 3, sehingga IHSG masih berpeluang menguat untuk menguji area 6.106-6.140 sekaligus MA20-nya. Namun demikian, tetap cermati adanya koreksi IHSG ke area 5.962-6.021," ujar Herditya.
(dhf)



























