Penurunan tersebut terutama dipicu oleh melemahnya persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini turun 4,3 poin menjadi 112,2. Konsumen juga semakin berhati-hati dalam membeli barang tahan lama seperti kendaraan, elektronik, maupun furnitur. Hal ini tercermin dari indeks pembelian durable goods alias barang tahan lama, seperti kendaraan, dan barang elektronik, yang turun menjadi 108,3.
“Pelemahan ini mengindikasikan rumah tangga mulai bersikap lebih hati-hati di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi dan meningkatnya biaya pinjaman setelah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga dalam beberapa waktu terakhir,” sebut Laporan Samuel Sekuritas.
Selain itu, persepsi terhadap ketersediaan lapangan kerja dalam enam bulan terakhir juga menurun menjadi 105,0. Artinya, masyarakat mulai melihat peluang pekerjaan dan peningkatan pendapatan dengan lebih konservatif dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.
Sikap kehati-hatian tersebut juga tercermin dalam kinerja penjualan ritel. Data Survei Penjualan Eceran (SPE) Bank Indonesia menunjukkan pertumbuhan penjualan mulai melambat setelah lonjakan musiman selama Ramadan dan Idulfitri. Bahkan secara bulanan, penjualan eceran pada April mengalami kontraksi setelah sebelumnya mencatat pertumbuhan yang sangat kuat pada Maret.
Hal ini terlihat pada data Indeks Penjualan Riil (IPR) tercatat melambat dibandingkan posisi sebelumnya 256,7 pada Maret, menjadi 226,9 pada April. Bank Indonesia memperkirakan bulan Mei bahkan lebih rendah lagi menjadi 225.
Pola ini menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga masih tumbuh, tetapi ekspansinya mulai kembali mengarah pada tren normal.
Dengan kata lain, masyarakat belum menghentikan belanja, namun mulai lebih selektif dalam menentukan prioritas pengeluaran di tengah kenaikan harga dan biaya pinjaman yang lebih tinggi.
Meski bukan sinyal krisis, nampaknya data IPR tahunan yang turun selama dua bulan beruntun sepertinya menunjukkan bahwa daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih.
Manfaktur Mulai Stabil
Namun, di tengah berbagai sinyal moderasi konsumsi tersebut, sektor manufaktur justru memberikan kabar yang lebih positif. Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia berhasil keluar dari zona kontraksi dan naik dari 49,1 menjadi 50,0 pada Mei 2026.
Kembalinya PMI ke level 50 menunjukkan aktivitas manufaktur telah berhenti menyusut dan mulai memasuki fase stabilisasi. Perbaikan ini mengindikasikan bahwa permintaan mulai membaik, baik dari pasar domestik maupun eksternal, setelah sektor industri menghadapi tekanan cukup besar akibat ketidakpastian global dan pelemahan daya beli pada awal tahun.
Meski angka 50 masih tergolong tipis dan belum mencerminkan ekspansi yang kuat, pergerakan tersebut bisa dianggap penting karena menandakan sektor produksi belum mengalami perlambatan yang lebih dalam seperti yang sebelumnya dikhawatirkan.
Capaian tersebut ditopang oleh pasar domestik yang mendapat dorongan dari normalisasi aktivitas bisnis pasca-Lebaran. Pemesanan baru (new orders) meningkat untuk bulan kedua berunrun dan tumbuh pada laju tercepat sejak Februari.
Namun, menurut Samuel Sekuritas dalam laporannya mencatat data aktivitas manufaktur RI juga menunjukkan adanya kesenjangan yang semakin lebar antara permintaan domestik dan permintaan eksternal. Pesanan ekspor mengalami kontraksi selama tiga bulan beruntun dan mencatat penurunan terdalam sejak Agustus 2021.
Pelemahan tersebut terjadi lantaran terganggunya arus perdagangan global akibat konflik di Timur Tengah. "Penurunan permintaan eksternal menjadi perhatian utama, terutama bagi industri manufaktur yang berorientasi ekspor dan sangat bergantung pada rantai pasok global serta pasar luar negeri," sebut Tim Makro Samuel Sekuritas dalam laporannya.
Samuel Sekuritas menambahkan, keberlanjutan pemulihan manufaktur akan sangat bergantung pada terjaganya stabilitas nilai tukar, dukungan kebijakan fiskal yang tepat sasaran, serta membaiknya kondisi pembiayaan yang dapat mendorong aktivitas produksi dan investasi.
Ekonomi Melambat Sementara
Dengan indikator-indikator yang ada, ekonomi Indonesia saat ini sedang memasuki fase perlambatan sementara, setelah pertumbuhan yang relatif kuat pada kuartal pertama 2026.
Hal ini sejalan dengan data yang dihimpun Bloomberg, pada kuartal II-2026, bahwa ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh 5% secara tahunan. Jika terwujud, perekonomian RI melambat dibandingkan kuartal I-2026 yang mencatat pertumbuhan sebesar 5,61%.
Dalam survei bulanan Bloomberg pada awal Juni, pertumbuhan ekonomi Tanah Air diperkirakan bertahan 5% pada kuartal III-2026 sebelum melambat menjadi 4,69% pada kuartal IV-2026.
Inflasi yang meningkat dan keyakinan konsumen yang melemah menunjukkan tekanan terhadap daya beli rumah tangga memang nyata. Namun, perbaikan PMI manufaktur, berlanjutnya proyek-proyek pemerintah, serta ekspektasi konsumen yang masih relatif optimistis terhadap enam bulan mendatang menunjukkan fondasi ekonomi belum mengalami pelemahan struktural.
Dengan kata lain, kondisi saat ini lebih menggambarkan proses normalisasi permintaan domestik daripada penurunan ekonomi yang tajam. Konsumsi rumah tangga tidak lagi tumbuh seagresif awal tahun, tetapi aktivitas produksi mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan.
(dsp)

























