Meski demikian, isi dari memorandum kesepahaman tersebut masih belum jelas. AS mengisyaratkan bahwa kesepakatan pada dasarnya sudah selesai, sementara Iran menyatakan masih harus mengambil keputusan final. Perbedaan narasi ini memunculkan keraguan mengenai seberapa cepat Selat Hormuz dapat kembali beroperasi normal seperti sebelum perang.
Sumber yang mengetahui pembahasan tersebut mengatakan memorandum itu masih menyisakan ruang interpretasi, termasuk mengenai makna pembukaan kembali selat tersebut dalam praktiknya. Trump menyebut kapal-kapal akan mendapat akses bebas melintas, sedangkan media Iran mengindikasikan Teheran tetap akan memiliki tingkat kendali tertentu.
Trump juga menghadapi tantangan politik domestik. Ia ingin mempresentasikan kesepakatan ini sebagai kemenangan bagi kelompok konservatif Partai Republik yang bersikap keras terhadap Iran, sekaligus meredam kritik publik Amerika yang semakin menentang perang yang dimulai pada akhir Februari melalui serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran.
Wakil Presiden JD Vance tampak membela upaya diplomatik tersebut. Ia mengkritik pihak-pihak yang sebelumnya memuji kepemimpinan Trump namun kini menyerang potensi kesepakatan berdasarkan laporan media yang belum terkonfirmasi.
"Presiden akan menghasilkan hasil yang baik, apa pun caranya," tulis Vance. Ia juga menegaskan Iran tidak akan langsung memperoleh akses ke dana yang dibekukan hanya karena menandatangani kesepakatan.
Potensi Penandatanganan di Sekitar KTT G7
Perkembangan negosiasi ini meningkatkan perhatian terhadap Konferensi Tingkat Tinggi G7 yang akan berlangsung di Evian, Prancis, pada 15-17 Juni. Sejumlah pejabat senior menyebut kesepakatan dapat ditandatangani di sela-sela pertemuan tersebut.
Jenewa yang berlokasi tidak jauh dari Evian disebut-sebut sebagai lokasi potensial penandatanganan bahkan mulai Minggu mendatang. Namun seorang pejabat senior AS mengatakan belum ada keputusan final mengenai waktu maupun lokasi.
Di tengah kemajuan negosiasi, ketegangan tetap tinggi. Trump membantah laporan media Iran yang menyebut AS akan mencairkan lebih dari US$20 miliar (Rp357,74 triliun dengan asumsi US$1 sama dengan Rp17.887 dana Iran yang selama ini dibekukan di berbagai negara.
"Iran adalah pihak yang sangat tidak terhormat untuk diajak berunding. Mereka harus segera membereskan sikap mereka," tulis Trump di media sosial.
Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan pemerintah masih meninjau rancangan kesepakatan tersebut.
"Seluruh otoritas terkait harus mencapai konsensus mengenai setiap detail teks dan potensi kesepakatan," kata juru bicara kementerian yang dikutip kantor berita IRIB.
Hormuz, Uranium, dan Gencatan Senjata
Seorang diplomat yang mengikuti pembahasan mengatakan memorandum tersebut kemungkinan akan memberi Iran dan negara-negara lain di sekitar Selat Hormuz peran tertentu dalam pengawasan keamanan jalur pelayaran tersebut.
Pejabat AS berpendapat kendali Iran atas Hormuz telah melemah akibat perang. Diplomat lain menyebut AS dan sekutunya menargetkan arus pelayaran kembali normal dalam waktu sekitar satu bulan setelah kesepakatan ditandatangani.
Upaya tersebut berpotensi terkendala dugaan pemasangan ranjau laut oleh Iran di perairan Hormuz. Inggris dan Prancis disebut tengah mempersiapkan bantuan untuk membersihkan jalur tersebut.
Sebelum konflik pecah, sekitar 140 kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari. Setelah Iran menyerang kapal-kapal menggunakan drone dan rudal, lalu lintas pelayaran anjlok. Meski mulai meningkat dalam beberapa pekan terakhir, jumlah kapal masih jauh di bawah kondisi normal.
Menurut pejabat senior AS lainnya, kesepakatan akan berbasis kinerja. Selain pembukaan kembali Selat Hormuz, Iran diwajibkan menyerahkan atau memusnahkan persediaan uranium yang diperkaya tinggi serta membongkar program nuklirnya. Iran juga tidak akan menerima dana apa pun sebelum memenuhi sebagian kewajibannya.
Kesepakatan damai sementara itu akan memperpanjang gencatan senjata AS-Iran selama sekitar dua bulan dan membuka jalan bagi negosiasi lanjutan mengenai program nuklir Iran. Sebagai imbalannya, AS akan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Nasib Kesepakatan Bergantung pada Pemimpin Tertinggi Iran
Seorang pejabat Eropa mengatakan syarat-syarat kesepakatan masih harus mendapat persetujuan dari Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei. Sejak konflik pecah, Khamenei disebut bersembunyi sehingga komunikasi melalui mediator utama, yakni Qatar dan Pakistan, sering memerlukan waktu berhari-hari.
Harapan tercapainya kesepakatan mendorong harga minyak turun dan pasar saham menguat pada Kamis malam. Pada Jumat, harga minyak kembali melemah. Minyak Brent sempat merosot hingga 5,1% ke level terendah sejak awal perang, sementara harga gas Eropa turun hingga 8,4% sebelum memangkas pelemahannya.
Meski masih mencatat kenaikan hampir 50% sepanjang tahun berjalan, harga minyak Brent telah turun signifikan dari puncaknya di sekitar US$125 per barel pada akhir April.
Isu Dana Iran dan Keberatan Israel
Kantor berita Iran, Mehr, melaporkan kesepakatan mencakup pelepasan dana Iran senilai US$24 miliar (Rp429 triliun) yang tersimpan di bank-bank luar negeri. Namun Trump dan sejumlah tokoh Partai Republik seperti Senator Lindsey Graham sebelumnya menolak pencairan dana tersebut.
Mehr juga melaporkan bahwa kesepakatan mencakup penarikan pasukan AS dari wilayah dekat Iran, pencabutan sanksi minyak, serta rencana rekonstruksi Iran senilai sekitar US$300 miliar (Rp 5,3 kuadriliun).
Israel, yang tidak terlibat dalam negosiasi memorandum sementara tersebut, berpotensi menjadi hambatan lain. Pemerintah Israel menentang setiap kesepakatan yang mencakup gencatan senjata di Lebanon, tempat militer Israel masih bertempur melawan kelompok Hizbullah yang didukung Iran.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga disebut lebih memilih operasi militer lanjutan untuk semakin melemahkan kemampuan militer Iran.
Pada awalnya, AS dan Israel menginginkan setiap kesepakatan dengan Iran mencakup pembatasan program rudal balistik serta dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok bersenjata di Timur Tengah seperti Hizbullah dan Houthi di Yaman. Namun hingga kini belum jelas apakah isu tersebut akan masuk dalam memorandum kesepahaman.
Menurut sumber yang mengetahui posisi Israel, tuntutan minimum Tel Aviv saat ini adalah memastikan seluruh uranium yang telah diperkaya tinggi dipindahkan keluar dari Iran. Israel akan menganggap kesepakatan gagal apabila Iran memperoleh pelonggaran sanksi tanpa menyerahkan cadangan uranium olahannya.
(bbn)

























