Sebagaimana diketahui, Bank Indonesia kembali menaikkan suku bunga acuan guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Pada awal Juni lalu, BI secara mengejutkan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50% melalui rapat di luar jadwal reguler.
Bank sentral menyebut langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat stabilisasi rupiah dan menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran.
Kondisi suku bunga yang lebih tinggi berpotensi memengaruhi biaya pendanaan dan permintaan kredit, termasuk pada sektor properti. Karena itu, CBDK memilih menetapkan target yang relatif datar sembari terus memantau perkembangan ekonomi dan pasar.
Di sisi lain, perseroan saat ini lebih fokus mengoptimalkan aset yang telah dimiliki. CBDK tercatat memiliki land bank sekitar 694 hektare di kawasan CBD PIK 2 yang akan terus dimonetisasi melalui pengembangan berbagai produk.
"Perseroan sedang fokus meningkatkan monetisasi land bank yang sudah ada dengan komposisi sebesar 694 hektare di CBDK," ujar Yohanes.
Sejalan dengan strategi tersebut, pengembangan kawasan PIK 2 disebut masih berjalan sesuai master plan yang telah ditetapkan.
Selain pengembangan produk residensial, komersial, dan commercial land plot, perseroan juga berfokus memperkuat ekosistem kawasan melalui pembangunan fasilitas pendukung dan destinasi baru.
Adapun, hingga kuartal I 2026, marketing sales perseroan telah tercapai 28% dari target tahun berjalan.
Hasil tersebut terutama ditopang oleh permintaan yang sehat pada segmen kaveling tanah komersial di kawasan CBD PIK 2, seiring mulai pulihnya minat pelaku usaha untuk mengamankan lokasi strategis guna mendukung ekspansi, keberlanjutan bisnis, serta menangkap peluang pertumbuhan jangka panjang.
(cpa/naw)






























